Musik, Kreativitas Tanpa Batas

95

Jakarta, Tengokberita.com-Jumat hari ini merupakan hari yang spesial bagi pencipta dan penikmat musik Indonesia. Karena 9 Maret diperingati sebagai hari Musik Nasional.

Perayaan ini hanya berlaku untuk Indonesia karena hari Musik Internasional jatuh pada 21 Juni.

Selamat Hari Musik Nasional, 9 Maret 2018. Rentang musik Nasional dari Sabang-Merauke mencerminkan rasa toleransi, kerukunan & keharmonisan. Musik kita jaga keberadaanya. Semoga eksistensi musik nasional lbh diakui keberadaanya secara global. Hidup tanpa musik terasa hambar -Jkw,” tulis Presiden Joko Widodo dalam akun twitternya, Jumat (9/3/2018)

Apa yang diungkapkan oleh Presiden itu benar adanya. Hidup tanpa musik itu sama seperti makan sayur tanpa garam, hambar. Hampir dipastikan, musik sudah menjadi satu kesatuan dalam kehidupan dan kegiatan sehari-hari.

Musik itu tidak mengenal sekat-sekat usia dan juga tidak mengenal suku dan kebangsaan karena musik itu sifatnya universal.
“Musik itu bahasa universal dan dia tidak mengenal agama, tidak mengenal suku dan bisa dinikmati siapapun,” Ketua Umum PPP Romahurmuziy dalam sebuah kesempatan.

Musik adalah seni yang paling abstrak sekaligus juga merupakan realitas fisika bunyi yang memiliki banyak keunggulan untuk membantu pendidikan watak halus seseorang.

Soeharto. M dalam buku “Kamus Musik”(1992 : 86) menyebutkan bahwa pengertian musik adalah pengungkapan gagasan melalui bunyi, yang unsur dasarnya berupa melodi, irama, dan harmoni dengan unsur pendukung berupa gagasan, sifat dan warna bunyi.

Namun dalam penyajiannya, sering dengan unsur-unsur lain, seperti bahasa, gerak, atau pun warna.

Aristoteles (328-322 SM) mengatakan musik adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk memulihkan keseimbangan jiwa yang sedang goyah, menghibur hati yang sedang goyah dan merangsang rasa patriotisme dan kepahlawanan. Sedangkan seni musik adalah suatu tiruan seluk beluk hati dengan menggunakan melodi dan irama.

Musik juga berfungsi sebagai sarana penyampai aspirasi. Ada sejumlah musisi yang menyuarakan aspirasinya melalui lirik tajam dan mengkritisi kondisi pemerintahan seperti Iwan Fals, atau almarhum Leo Kristi yang mengungpkan keresahan dengan kondisi lingkungannya. Demikian pula dengan Tony Q. Rastafara yang menyuarakan pesan kritis terhadap kondisi pemerintahan yang korup.

Musik tercipta karena ada gagasan yang hendak disampaikan kepada publik. Gagasan atau ide itu tergantung dari pendidikan, lingkungan dan pengalaman penciptanya sehingga keluarlah aneka ragam tema lirik dalam setiap jenis musik.

Musik itu adalah bagian dari seni. Karena itu menurut Irving Stone merupakan kebutuhan pokok. Seperti roti atau anggur ataupun mantel hangat dimusim dingin. Mereka yang mengira kesenian ialah barang mewah, pikirannya tidak utuh. Roh manusia menjadi lapar akan kesenian seperti halnya perutnya keroncongan minta makan. Musik juga demikian. Bahkan, penelitian terbaru, beberapa jenis musik akan membuat rasa makanan menjadi lebih enak.

Musik dari Luciano Pavarotti dapat meningkatkan selera saat menikmati chocolate mousse. Sementara jika mendengarkan lagu-lagu The Beatles, orang cenderung merasa nikmat saat menyantap ikan atau keripik.

Musik memang tidak dapat menciptakan rasa atau rasa yang tidak ada dalam mulut Anda, tetapi beberapa jenis musik bisa menarik perhatian alam pikiran Anda saat menikmati anggur atau makanan. Ini semacam bumbu digital,” kata Profesor Charles Spence, psikolog perilaku dari Oxford University kepada Observer (rot)

Bagaimana menurut pembaca?