Narkoba Jenis Shabu Masih Marak di Masyarakat

102

Jakarta, Tengokberita.com – Penyitaan lebih dari empat setengah ton narkoba jenis shabu-shabu di perairan Sumatera belum lama ini, tak membuat shabu hilang dari peredaran. Serbuk berbentuk kristal itu tetap ada di pasaran.

Penyitaan lebih dari empat setengah ton shabu itu justru membuat harga shabu melambung. Bahkan memantik kelahiran narkoba-narkoba jenis baru.

Berdasarkan penelusuran tengokberita.com, narkoba jenis shabu masih bisa dengan mudahnya didapatkan di kawasan Selatan Jakarta, Tangerang Selatan (Tangsel), dan Depok. Seorang mantan pengedar berinisial AP mengatakan, penyitaan lebih dari empat setengah ton shabu di perairan Sumatera belum lama ini, sedikit banyak memang berpengaruh terhadap peredaran shabu di masyarakat.

Hanya saja, kata AP yang kini memilih berprofesi sebagai pengojek ini, penyitaan berton-ton shabu oleh aparat kepolisian dan BNN tersebut tidak serta merta membuat shabu hilang dari peredaran.

Emang sih sempet ngilang, tapi cuman dua hari. Setelah itu biasa lagi, cuman harganya jadi naik. Abang mau pesen, ntar saya cariin kalau abang mau,” kata AP saat ditemui tengokberita.com di suatu tempat di Tangsel, belum lama ini.

Menurut AP, harga paketan Rp200 ribu kini naik menjadi Rp350 ribu, seperempi (seperempat gram) yang tadinya sekitar Rp400 ribu kini menjadi Rp500 ribu – Rp600 ribu, dan untuk satu ji (gram) yang tadinya Rp1,6 juta kini menjadi Rp1,7 juta bahkan ada yang menjual Rp1,9 juta, tergantung jenisnya.

Meski mengaku sudah kapok mengedarkan narkoba lantaran membuat dirinya keluar masuk penjara, AP tak bisa lepas dari lingkaran serbuk kristal tersebut. Penghasilannya dari ojek sepeda motor yang mangkal (bukan ojek online) diakuinya tak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Ada tiga anak dan seorang istri yang mesti dia nafkahi.

Sesekali ia melayani calon pembeli. Itu pun ia hanya mau melayani calon pembeli yang sudah ia kenal betul. Tawaran untuk kembali menjadi pengedar bukannya tidak ada. Tapi ia sudah bertekad untuk tidak lagi berjualan narkoba jenis shabu secara langsung alias menjadi pengedar.

Kini AP lebih memilih sebagai kurir yang mengandalkan tips atas jasanya dari pengedar maupun calon pembeli. Dari paketan shabu yang seharga Rp200 ribu (sebelum ada kenaikan harga), AP mendapatkan Rp20 ribu dari pengedar.

Sedangkan dari calon pembeli tips yang diterimanya tak menentu. “Kadang duit Rp20 ribu, kadang cuma rokok aja sebungkus. Ada juga yang ngasih berupa nasi pecel ayam sebungkus,” kata AP.

Itu pun tidak setiap saat dan tidak setiap hari. Meski banyak calon pembeli yang menghubunginya, AP tak serta merta melayaninya. AP hanya melayani calon pembeli yang sudah dikenalnya dengan baik.

AP menjelaskan, dari informasi yang dia dapat, narkoba jenis shabu masih bisa dengan mudah didapatkan tak hanya di Tangsel, tetapi juga di kawasan Depok.

Berbeda dengan kawasan Selatan Jakarta dan sekitarnya, di daerah Jakarta Timur dampak penyitaan berton-ton shabu di perairan Sumatera di akhir Februari, masih terasa hingga sekarang.

Hal ini diakui DA, seorang kurir narkoba di Jakarta Timur. “Lagi kosong, bang dah sebulan ini. Katanya sih ada, tapi bukan di teman-teman yang saya kenal. Saya nggak mau ambil risiko,” kata DA, pria asal Makassar yang mengaku dulu pernah menjadi pengedar ini kepada tengokberita.com.

DA pernah menjadi kurir narkoba antar kota dan antar provinsi. Nyaris dua per tiga hidupnya keluar masuk penjara dengan berbagai kasus. Tersering adalah kasus narkoba. (has)

Bagaimana menurut pembaca?