Narkoba, Narkotika, Psikotropika, NAPZA, Apa Bedanya?

103

Edukasi, Tengokberita.com – Narkoba belakangan menjadi kata yang sering kita dengar, seiring dengan gencarnya pemberitaan pencegahan dan pemberantasan narkoba di Tanah Air oleh aparat penegak hukum. Narkoba pun kemudian menjadi kata yang begitu akrab bagi masyarakat Indonesia.

Meski sudah akrab, tampaknya tak semua masyarakat tahu apa itu narkoba. Pengenalan dan pengetahuan akan narkoba yang cukup, bisa menjadi bekal untuk menghindari dari jeratan narkoba.

Narkoba merupakan kependekan dari narkotika dan obat-obatan/bahan berbahaya. Entah kapan persisnya kata ini mulai dipergunakan dan dipopulerkan. Istilah ini kemungkinan mulai banyak dikenal masyarakat pada sekitar tahun 1997 atau 1998.

Pastinya, sebelum narkoba, ada sebutan lain yang ditujukan bagi persoalan narkotika dan psikotropika di Indonesia. Yaitu NAPZA yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

(baca: Siapa “Benalu” dalam Pemberantasan Narkoba ?)

NAPZA merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Kata NAPZA mulai banyak digunakan pada pertengahan tahun 1990-an, utamanya sejak kasus kematian Rivaldi Soekarnoputra di kediaman artis Ria Irawan pada tahun 1994 silam. Ketika itu, Rivaldi ditengarai kuat meninggal akibat mengonsumsi secara berlebihan (overdosis) pil ekstasi.

Ekstasi saat itu merupakan temuan baru di dunia narkotika Indonesia. Dari senyawa kimia yang membentuknya, kemudian diketahui bahwa pil ekstasi tidak termasuk narkotika, melainkan psikotropika. Kemenkes pun berbenah, dan lahirlah istilah NAPZA.

Tak lama kemudian lahirlah UU No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Disusul UU No 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika) dan UU No 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

Baik Narkoba maupun NAPZA, memiliki makna yang sama dalam konteks narkotika, psikotropika, obat-obatan/bahan berbahaya, dan zat adiktif. Kedua istilah tersebut mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya.

Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.

Dari pengertian tadi, baik narkoba maupun NAPZA, meliputi tiga kategori. Yaitu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

1. Narkotika
– Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika).
– Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Pasal 7 UU No 35/2009).
– Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan, dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda.

– Narkotika digolongkan menjadi tiga golongan sebagaimana tertuang dalam lampiran 1 UU No 35/2009 tentang Narkotika. Narkotika Golongan I teridentifikasi 114 jenis, Golongan II teridentifikasi 91 jenis, dan Golongan III teridentifikasi 15 jenis.
Yang termasuk narkotika adalah:
• Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.
• Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.

2. Psikotropika
– Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 5/1997 tentang Psikotropika).
– Terdapat empat golongan psikotropika menurut undang-undang tersebut, namun setelah diundangkannya UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, maka psikotropika golongan I dan II dimasukkan ke dalam golongan narkotika.


– Psikotropika Golongan III teridentifikasi 9 jenis dan Psikotropika Golongan IV teridentifikasi 62 jenis.
Zat yang termasuk psikotropika antara lain:
• Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandrax, Amfetamine (pil ekstasi), Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide) dan sebagainya.

3. Zat Adiktif
Merupakan zat berbahaya lainnya di luar narkotika dan psikotropika, yaitu bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistem saraf pusat.


Yang termasuk adiktif antara lain:
• Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether dan sebagainya. (has)

Bagaimana menurut pembaca?