Manusia Sudah ‘Fly’ Narkoba Sejak 5.500 Tahun Lalu

264
narkoba, anti narkoba, darurat narkoba

Science, Tengokberita.com – Sejarah narkotika, tak bisa dipisahkan dari opium. Tanaman bernama latin Papaver somniferum ini menjadi nenek moyang narkotika. Dari tanaman itu lah manusia menghasilkan candu.

Candu berasal dari getah bunga opium yang telah dikeringkan dan telah melalui proses yang sederhana. Getah itu berasal dari irisan biji mentah opium yang disebut poppy. Warnanya putih dan akan berubah menjadi cokelat setelah melalui proses pengeringan. Getah kering berwarna cokelat itu disebut opium mentah. Setelah melalui proses yang sederhana, getah kering opium itu siap dikonsumsi sebagai candu atau madat.

Apabila dikonsumsi, candu akan mempengaruhi sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh sehingga si pengguna akan merasa lebih tenang. Candu pun kemudian menjadi komoditas yang banyak dikonsumsi manusia di seluruh dunia, bahkan memegang peranan penting dalam sejarah peperangan global.

Lantas, kapan manusia pertama kali menggunakan tanaman opium?

Sejarah opium, setua peradaban manusia itu sendiri. Para ahli meyakini, tanaman opium pertama kali dibudidayakan oleh bangsa Sumeria, manusia pendukung peradaban Mesopotamia (sekitar 3.500 tahun Sebelum Masehi), yang terletak di antara Sungai Tigris dan Effrat di Timur Tengah, di tepi Sungai Nil, Mesir.

Di Mesopotamia, para arkeolog menemukan benda-benda tembikar dengan ekstrak candu di bagian dasarnya. Juga ditemukan aneka alat upacara ritual dengan ekstrak candu. Dari temuan-temuan ini, para arkeolog meyakini bahwa manusia pendukung peradaban Mesopotamia merupakan orang pertama yang menggunakan dan sekaligus membudidayakan tanaman opium.

Bangsa Sumeria di Mesopotamia menggunakan candu sebagai alat untuk ritual dan persembahan. Juga digunakan untuk kesehatan seperti menghilangkan rasa nyeri dan obat penenang. Candu yang dikonsumsi kemudian menjadi alat untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur.

Bangsa Sumeria menyebut candu dengan istilah “Hul Gill” yang artinya ‘tumbuhan yang menggembirakan’ karena efek yang diberikan tumbuhan tersebut bisa melegakan rasa sakit dan memudahkan penggunanya cepat terlelap.

Namun filsuf dan ahli medis Hippocrates, Plinius, Theophratus dan Dioscorides menggunakan candu sebagai bagian dari pengobatan, terutama pembedahan. Saat itu Hippocrates belum menemukan bahan aktif candu namun ia tahu kegunaan candu yang sifatnya analgesik (pereda rasa sakit) dan narkotik.

(baca : Narkoba, Narkotika, Psikotropika, NAPZA, Apa Bedanya?)

Dari lembah Mesopotamia inilah terentang sejarah panjang candu. Mula-mula ke seluruh wilayah Mesir, kemudian menyebar ke daerah Arab, Afghanistan, dan Pakistan. Lalu melintasi laut Mediterania menuju Yunani dan Eropa. Tahun 330 SM Raja Alexander Agung memperkenalkan opium kepada masyarakat India dan Persia.

Masyarakat di Jawa tengah mengonsumsi candu (madat) pada abad 19 M. (Foto: Koleksi Tropenmuseum)

Pada 440 M, orang di China mulai mengenal opium melalui pedagang dari Arab. Di Indonesia, kemungkinannya lebih awal lagi. Sebab kontak niaga dengan para pedagang dari Arab, Turki, Persia, dan India, sudah berlangsung sejak abad-abad pertama Masehi.

Di Eropa, pada abad ke-14, opium sempat dilarang, sehingga menghilang selama kurang lebih 200 tahun. Namun pada 1527, opium kembali diperkenalkan di Eropa, khususnya dalam bidang kedokteran dan digunakan sebagai obat antinyeri.

Candu kala itu memang banyak diproduksi di Eropa. Sebab, tanaman opium banyak tumbuh di kawasan pegunungan Eropa Tenggara. Candu kemudian menjadi komoditas yang diperebutkan Belanda, Inggris, dan Denmark.

Belanda dan Inggris bahkan menjadikan candu sebagai komoditas penting dalam upaya pencarian rempah-rempah ke kawasan Asia pada abad 16. Pada masa itu, Eropa tengah dilanda krisis rempah-rempah. Harga rempah-rempah bahkan jauh lebih mahal ketimbang emas.

Tanaman opium yang berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara, kini telah menyebar ke sejumlah negara. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Afganistan sekarang ini bahkan menjadi negara penghasil opium terbesar di dunia, yang memasok 87% opium dunia.

Ladang-ladang opium kini juga banyak ditemukan di kawasan ‘segitiga emas’ yaitu perbatasan Myanmar, Thailand, dan Laos. Laos bahkan termasuk salah satu negara penghasil opium terbesar di dunia.

Candu merupakan cikal-bakal kelahiran narkotika dan psikotropika, yang jumlah keturunannya kini sudah mencapai ratusan jenis dan tampil dalam beraneka rupa. Apalagi setelah seorang ahli farmasi Jerman bernama Friederich Wilhem Adam Serturner mengembangkan opium mentah atau candu tadi menjadi varian baru yang kemudian diberinama Morfin (berasal dari kata Morpheus, dewa mimpi dalam mitologi Yunani) pad tahun 1804. Morfin merupakan hasil opium mentah yang diekstrak.

Secara klinis, morfin, sampai saat ini merupakan obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa sakit dan dipergunakan sebagai pengobatan resmi. Namun, penyalahgunaannya juga meluas di seluruh pelosok dunia. (has)

Bagaimana menurut pembaca?