Nyawa Melayang, Penyakit Menghadang, Pendapatan Nelayan Rp11 Miliar/Hari Hilang

792

Ekonomi, Tengokberita.com – Peristiwa Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan pada 31 maret 2018 lalu, jika dibandingkan dengan pencemaran minyak di Deepwater Horizon, Teluk Meksiko April 2010 silam memang masih lebih sedikit dampak kerusakan ekologisnya. Namun, jika dilihat dari sejarah Kalimantan, peristiwa kelam itu adalah kasus pencemaran terburuk sepanjang sejarah di Kalimantan. Bahkan mungkin di Indonesia. Tak hanya itu, Peristiwa memilukan tersebut selain menelan korban jiwa juga menimbulkan kerugian finansial yang lumayan besar, mencapai miliaran dollar.

Meski hingga kini pemerintah pusat belum mengeluarkan pernyataan secara resmi mengenai jumlah finansial yang terjadi, namun angka miliaran dollar itu memang bukan sekedar isapan jempol semata. Bagi pihak Pertamina, yang terlihat sementara adalah volume tumpahan minyak yang diindikasikan sekitar 40 ribu barel.

Direktur Pengolahan Pertamina Toharso di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu mengaku belum menghitung total kerugian secara nominal. Namun, berdasarkan hitungan Tengokberita.com, dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Maret 2018 mencapai US$61,87 per barel maka potensi kerugian Pertamina dari tumpahnya minyak tersebut setidaknya mencapai US$2,47 juta atau sekitar Rp34 miliar (kurs dollar saat itu Rp13.700 per dolar AS).

(baca: Rantai Peristiwa Pencemaran Minyak yang Membahayakan Alam Hingga Manusia (2-Habis))

Potensi kerugian itu makin membengkak bila mengacu kepada pernyataan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. Putusnya pipa minyak PT Pertamina (Persero) di Teluk Balikpapan, ujar Tahar, menyebabkan potensi kerugian hingga 200.000 barel per hari (bph). Jika harga perbarelnya $61,87 dan kurs dollar dihutung Rp 14.000 maka Pertamina mengalami kerugian perhari mencapai Rp 173.236.000.000.

Itu dari sisi pertamina. Jika dilihat dari sisi warga dan kerusakan lingkungan ekologis Balikpapan, maka angka kerugian yang dialami Pertamina masih kalah bila dihitung dari kerugian jangka panjang warga dan lingkungannya.

Warga yang meninggal akibat peristiwa itu, lima orang nelayan dan 20 lainnya menderita luka bakar. Kelima orang itu adalah Imam (42)warga Jalan Letjen Suprapto Nomor 66, Balikpapan Barat; Wahyu Gusti Anggoro (27), warga Balikpapan; Suyono (55), warga Jalan Gunung Empat RT 04 Balikpapan; Agus Salim (42), warga Jalan Sepaku, Balikpapan Tengah dan terakhir Sutoyo (43), warga Klandasan Ulu RT 25, Kelurahan Balikpapan Selatan. Para nelayan itu meninggal diduga terperangkap pekatnya asap hitam pembakaran tumpahan marine fuel oil (MFO) di perairan Teluk Balikpapan Kalimantan Timur. Kelima orang itu, rencananya akan mendapatkan santunan Rp Rp 12,5 juta/orang.

Penelusuran Tengokberita.com hingga Sabtu (14/4/2018), Pertamina menyatakan telah menyalurkan bantuan mencapai Rp 2,2 miliar berupa bantuan Corporate Social Rersponsibility (CSR), kompensasi, maupun santuan dana kepada warga terdampak ceceran minyak di Teluk Balikpapan.

(baca:Rantai Peristiwa Pencemaran Minyak yang Membahayakan Alam Hingga Manusia (1))

Lantas ada 162 kapal milik puluhan nelayan di Balikpapan, Kalimantan Timur, tidak bisa melaut selama beberapa hari. Kapal-kapal nelayan Balikpapan yang rata-rata berukuran 2-5 gross ton (GT) tidak bisa beraktifitas karena lautnya terdampak tumpahan minyak. Akibatnya, juga berdampak pada jumlah tangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Balikpapan.
Bila per kapal bisa menangkap ikan 10 ton/malam, maka 162 kapal 1.620 ton yang terbuang permalam. Jika harga ikan dirata-rata Rp 7 ribu/kg maka tiap perahu mendapatkan 70 juta permalam x162 kapal, menjadi Rp 11.340.000.000/malam. Selama peristiwa tumpahan minyak berlangsung maka nilai ekonomi yang terbuang dari kapal-kapal yang tidak melaut itu mencapai Rp 11 Miliar lebih per malam.

Hitungan kerugian itu belum termasuk kerugian ekologis yang berlangsung bertahun-tahun. Pemerintah belum mengumumkan secara resmi kerugian ekonomi dari ekologis tersebut.
Informasi Tengokberita.com hanya diperoleh dari studi awal Greenomics Indonesia. Mereka mengatakan kerugian ekologis akibat tumpahan minyak Pertamina di Teluk Balikpapan setidaknya telah menimbulkan areal terdampak sedikitnya setara dengan 20 ribu kali lipat stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi dalam sebuah kesempatan menyebut kisaran angka 8,27 miliar dollar AS kerugian akibat tumpahan minyak di Teluk Balikpapan.

(baca:Rantai Peristiwa Pencemaran Minyak yang Membahayakan Alam Hingga Manusia (2-Habis)

Ketua bidang Kampanye Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan, Husain Suwarno ketika dihubungi Tengokberita.com juga mengakui volume minyak yang tumpah di Teluk Balikpapan itu berkisar 40.000 barrel memiliki dampak ekonomi dan dampak ekologisnya tidak sedikit. Misalnya kawasan Mangrove yang mencapai 17.000 hektar ikut tercemar. “Dampak ekologisnya benar-benar merugikan lingkungan hidup dan masyarakat nelayan,” ujar dia.

Peristiwa itu juga mengakibatkan tercemarnya ekosistem di Balikpapan hingga radius 80 kilometer dan berpindahnya spesies mamalia seperti pesut dan lain-lain.
Data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) luas wilayah yang terkena ceceran minyak diperkirakan mencapai sekitar 7.000 hektar yang meliputi pantai, hutan, muara sungai hingga batu karang. Adapun tanah yang terkontaminasi minyak melebihi 42.000 meter kubik di Balikpapan dan di Penajam Paser Utara.

Kepada Tengokberita.com, Walhi menyebutkan dibutuhkan waktu setidaknya 8 bulan untuk menanggulangi dampak pencemaran lingkungan dari tumpahan minyak tersebut. “Krisinya jangka panjang, maka pemulihannya juga jangka panjang.” ujar Manajer Advokasi Walhi Kalimantan Timur Topan Wamustofa Hamzah. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?