Home » News » Kasus » Pakar Keselamatan: Kasus Bayi Debora Lebih Serius dari Kesalahan Administrasi!

Pakar Keselamatan: Kasus Bayi Debora Lebih Serius dari Kesalahan Administrasi!

Jakarta, Tengokberita.com – Kasus kematian bayi Tiara Debora Simanjorang (4 bulan) di RS Mitra Keluarga Kalideres Jakarta Barat adalah kasus serius. Tak sekadar kesalahan administrasi sebagaimana dinyatakan pemerintah via Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Ihwal ini disampaikan Soehatman Ramli, pakar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). “Kasus kematian bayi Debora adalah kasus serius dan lebih dari kelalaian administrasi,” kata Soehatman Ramli, SKM, Dipl SM, MBA kepada tengokberita.com di Jakarta, Rabu (13/9/2017) malam.

Dikatakan Soehatman, keselamatan pasien sudah menjadi nilai-nilai universal. Seorang dokter terikat dengan sumpah Socrates untuk mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan keselamatan pasien di atas segalanya.

Namun zaman berubah di mana rumah sakit telah menjadi industri jasa. Di mana faktor ekonomi menjadi dominan. Di sinilah peran pemerintah untuk mengaturnya misalnya dengan kepmenkes no 1691 tahun 2011 tentang Keselamatan Pasien,” Soehatman menambahkan.

(Baca: Ketika Nyawa Bayi Debora Ditakar Administrasi)

Pada Senin (11/9/2017), Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan rekomendasinya kepada Komisi IX DPR RI. Isinya adalah pembentukan tim audit medik, direktur RS Mitra Keluarga mengeluarkan surat pernyataan untuk penyediaan pelayan aman, bermutu, anti-diskriminasi, dan efektif, (RS mitra Keluarga) menyatakan kebersediaan melakukan fungsi sosial tanpa uang muka, melaksanakan sistem rujukan dengan benar, serta mematuhi aturan yang berlaku untuk standart pelayanan di RS.

Menanggapi hal tersebut, Soehatman mengatakan bahwa RS di Indonesia hanya memiliki audit akreditasi Rumah Sakit, namun tidak khusus (untuk) keselamatan pasien (patient safety).

Di negara lain persyaratan patient safety sangat ketat dan diaudit sampai disertifikasi. Di Amerika Serikat dan Inggris dilakukan secara khusus (misalnya). Di Indonesia pemahaman tentang patient safety masih rendah di kalangan pelaku kesehatan dan siapa yang memonitori?” kata dosen K3 di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta ini.

Harus diperbaiki peraturannya, setiap pasien diperlakukan berdasarkan profesionalisme dokter, bukan oleh administrasi,” Soehatman menegaskan. (cia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

Ini Kronologi Jony Tikam Selingkuhannya Gara-gara ‘Mr P’ Nya Diledek Kecil

Pakar Keselamatan: Kasus Bayi Debora Lebih Serius dari Kesalahan Administrasi!

Tengok Berita red tengokberita.com Berita Hari ini: 1 min
0