Home » News » Refleksi » Para Pemuja Diskon, Manusia Indonesia dan Fetitisme Komoditas

Para Pemuja Diskon, Manusia Indonesia dan Fetitisme Komoditas

Jakarta, Tengokberita.com– Fenomena perburuan barang barang bermerk yang didiskon di salah satu mal megah di Jakarta bisa dibaca dengan cara pandang Mochtar Lubis soal manusia Indonesia. Meski hingga sekarang kalangan akademis terutama dari bidang sosiologi dan antropologi kesulitan untuk mendiskripsikan ciri-ciri khas manusia Indonesia, namun mantan wartawan dan sastrawan ini bisa menerjemahkannya. Dalam buku Manusia Indonesia: Sebuah pertanggung jawab, Mochtar Lubis telah membuat suatu simpulan soal karakteristik manusia Indonesia tersebut.

Salah satunya adalah sifat yang tidak hemat. Manusia Indonesia Bukan “Economic Animal”. Manusia Indonesia malah pandai mengeluarkan penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Manusia Indonesia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Perilaku ini menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar-besaran, memakai barang buatan luar negeri, main golf, dan segala hal yang serba wah dan mahal.

Dengan begitu, maka tak heran jika kemudian barang barang branded atau bermerk itu diburu. Apalagi, dengan diskon besar-besaran seperti yang sekarang terjadi. Bahkan, beberapa di antara mereka rela keluar kantor saat jam kerja untuk memburu barang barang mahal yang sedang didiskon tersebut.

Kedua, dari aspek sosiologi, mereka ini disebut Fetisisme Komoditas. Fetishism (artinya benda sakti) adalah kepercayaan akan adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu dan segala aktivitas untuk mempergunakan ‘benda-benda sakti’ itu.

Fetitisme komoditas ini adalah sebuah bentuk dorongan seksual yang ditujukan kepada benda-benda milik jenis kelamin berlawanan, misalnya seorang laki-laki akan tertarik pada pakaian dalam perempuan, rambut perempuan dan lain-lain. Melalui benda non-seksual, benda mati atau bagian dari tubuh seseorang, orang-orang fetisisme mendapatkan kenimatan seksual
Paralel dengan kenikmatan seperti itu, berburu barang barang impian, terutama barang barang mewah adalah sebuah kenikmatan.

Akibat Fetisisme komoditas inilah mereka berbondong bondong berburu barang mewah apa saja yang lagi ngetren atau lagi ‘ramai’. Sayangnya, di sisi lain, keinginan untuk mendapatkan barang barang branded itu, untuk beberapa individu masih terkendala dengan kondisi keuangan mereka. Akibatnya, begitu barang branded itu didiskon, maka seketika dorongan-dorongan tersembunyi seperti memeroleh ruangnya. Karena itulah, maka mal-mal atau tempat yang menyediakan kegiatan diskon-diskon untuk barang bermerk itu akan terus diburu dan diserbu.(rot)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

pki, nkri

PKI Sebagai Investasi Ketakutan Orba (2-Habis)

OLEH : MIQDAD HUSEIN Sejatinya bukan ketakutan yang belakangan merebak di tengah masyarakat negeri ini. ...

Para Pemuja Diskon, Manusia Indonesia dan Fetitisme Komoditas

Tengok Berita redaksi Berita Hari ini: 1 min
0