Parisada Hindu Darma : Daripada Hidup dalam Penderitaan, Ganti Kelamin Tak Masalah

67
IR KETUT PARWATA

Society, Tengokberita.com – Parisada Hindu Dharma Indonesia tak mempersoakan peralihan seks dari laki-laki ke perempuan atau sebaliknya asalkan memenuhi sejumlah syarat.

Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Ir Ketut Parwata, yang ditemui Tengokberita.com di kantornya di kawasan Anggrek Nelly Murni, Slipi, Jakarta Barat mengatakan, agama atau keyakinan terutama Hindu ada untuk sebuah kebahagian, bukan kesenangan.

Lantaran itulah, dia tak mempermasalahkan atau mempersoalkan jika ada orang yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir atau dengan kata lain memiliki perbedaan antara bentuk fisik dan bawaan biologisnya melakukan perubahan ke arah yang lebih dominan.

(baca : Transgender, Kemenduaan Dalam Kepastian : Akhir Kematian “Topeng”di Mata Hukum)

Misalnya memiliki bentuk fisik laki-laki tapi kecenderungan biologisnya perempun kemudian melakukan pergantian jenis kelamin ke arah perempuan. Alasannya, kata Parwata, daripada bertahun-tahun terkurung dalam penderitaan maka akan lebih baik jika dia mengikuti kecenderungan biologisnya tersebut. Terlebih, kata dia, populasi orang yang seperti itu tak banyak.

Parwata menerangkan dengan jelas, Transgender yang dia maksud bukan yang dibuat-buat. Terlebih jika mengikuti gaya hidup, maka hal itu jelas salah. Menurut dia, Hindu menolak dengan tegas Lesbian, Gay dan Biseksual. Namun, tak demikian dengan transgender. Karena itu, PHDI tak mempermasalahkan perubahan seks atau jenis kelamin itu dengan sejumlah syarat

Pertama, mereka yang melakukan pergantian seks itu bukan dibuat-buat atau merupakan gaya hidup. Sebab, kalau gaya hidup atau dibuat-buat bukan murni dorongan dirinya, tetapi lebih kepada dorongan pergaulan atau lingkungan sekitarnya.

Kedua, meskipun fisiknya laki-laki, tapi kromosom x nya yakni gairah hormonalnya lebih dominan wanita atau berlaku sebaliknya. Hal ini harus dibuktikan dengan penelitian medis sehingga bisa dipertangungjawabkan secara ilmiah. Jika dua syarat miniminal itu terpenuhi maka perubahan jenis kelamin ke arah yang lebih dominan seksualnya maka hal itu dimungkinkan. (Rot)

Bagaimana menurut pembaca?