Perayaaan Natal, Kenapa Harus Ada Pohon Cemara?

87

Jakarta, Tengokberita.com-Pohon Cemara disebut juga dengan Pohon Natal.Saat umat Kristiani merayakan Natal maka hampir dipastikan cemara akan di pajang di Gereja-Gereja dan sudut-sudut ruangan rumahnya. Lantas, apa hubungan cemara ini dengan perayaan Natal? kenapa bukan pohon kelapa, beringin, pohon rambutan dan pohon lainnya.

Ada beragam versi cerita mengenai soal ini.

Pertama versi Santo Bonifasius. Rohaniawan Inggris ini memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis. Cerita bermula saat malam natal, St. Bonifasius bersama pengikut setianya melintasi hutan dengan menyusuri jalan setapak Romawi kuno.

Dalam perjalanannya, Santo bertemu dengan sekelompok orang yang mempersembahkan seorang anak kepada Dewa Thor di sebuah pohon Oak. Untuk menghentikan perbuatan jahat itu, secara ajaib St. Bonifasius merobohkan pohon dengan pukulan tangannya. Tiba-tiba terasa suatu hembusan angin yang dahsyat dimana pohon tersebut tumbang dengan akar-akarnya tercabut dari tanah. Pohon itu terbelah menjadi empat bagian. Kemudian dari pohon Oak yang roboh itu tumbuhlah sebuah pohon cemara muda bagaikan puncak menara gereja yang menunjuk ke surga.

Saat kejadian itu, St. Bonifasius berkata kepada warga desa, “Pohon kecil ini, pohon muda hutan, akan menjadi pohon kudus kalian mulai malam ini. Pohon ini adalah pohon damai, sebab rumah-rumah kalian dibangun dari kayu cemara. Pohon ini adalah lambang kehidupan abadi, sebab daun-daunnya senantiasa hijau. Lihatlah, bagaimana daun-daun itu menunjuk ke langit, ke surga. Biarlah pohon ini dinamakan pohon kanak-kanak Yesus. Berkumpullah di sekelilingnya, bukan di tengah hutan yang liar, melainkan dalam rumah kalian sendiri. Di sana ia akan dibanjiri, bukan oleh persembahan darah yang tercurah, melainkan persembahan-persembahan cinta dan kasih.”

Setelah St. Bonifasius mengatakan hal itu, warga desa mengambil pohon cemara itu dan membawanya ke desa. Warga menempatkannya di tengah-tengah rumah yang besar. Mereka memasang lilin-lilin di setiap dahannya sehingga pohon cemara itu tampak indah bagaikan dipenuhi bintang-bintang.

Versi kedua terkait Martin Luther, tokoh reformasi gereja.

Kala itu, Martin Luther tengah berjalan-jalan pada malam hari di sebuah hutan Jerman. Dia terkesan melihat keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan.

Martin Luther kemudian menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang ke rumahnya. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti di hutan, dia memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut. Sejak itu, pohon cemara tenar sebagai hiasan di Jerman.

Lantas mulai abad 16, sekitar tahun 1510, penduduk Jerman menyebar ke luar negeri hingga Amerika Serikat. Sejak itulah, tradisi pemasangan pohon Natal di sejumlah negara dimulai. Mereka kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah.

Pohon cemara ini diyakini melambangkan ‘hidup kekal’ berdasarkan sifat pohon cemara yang daunnya tetap hijau meski musim dingin yang hebat. Ia tetap tumbuh dan bertahan menghadapi dinginnya salju yang mengigit atau ketika tidak ada sinar matahari. Pohon cemara tetap kuat di segala musim maka ia dilambangkan sebagai Evergreen, ‘hidup kekal’.

Makna dibalik pohon cemara inilah yang menjadikannya selalu hadir dalam setiap perayaan Natal di seluruh dunia. (jbc/rot)

Bagaimana menurut pembaca?