Pertamina Tanggulangi Tumpahan Minyak dengan Dispersan, Bahaya Lain Mengintai

1225

Kesehatan, Tengokberita.com – Penanggulangan tumpahan minyak (oil spill) di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, dilakukan PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) V Balikpapan dengan dua metode. Yaitu metode mekanik dan metode kimia. Metode mekanik dilakukan RU V Balikpapan dengan menggunakan peralatan oil boom dan oil skimmer yang mereka miliki. Sedangkan metode kimia yang digunakan adalah dispersan atau oil dispersant.

Kabarnya, Pertamina RU V Balikpapan menggunakan bahan kimia berupa dispersan dalam jumlah besar. Informasi yang diperoleh, selama penanganan tumpahan minyak di Teluk Balikpapan itu, Pertamina RU V Balikpapan menghabiskan 15 ton dispersan.

Penggunaan bahan kimia dispersan dalam penanggulangan tumpahan minyak, belakangan menimbulkan pro kontra, menyusul penelitian atas penggunaan dua juta galon dispersan saat menanggulangi tumpahan minyak di anjungan lepas pantai Deepwater Horizon milik British Petroleum di Teluk Meksiko pada 2010. Hasil penelitian yang dilakukan Larissa Graham dan timnya dari Program Sea Grand Texas, Lousiana, Florida, dan Missisipi-Alabama, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa senyawa yang ada di dispersan dalam dosis tertentu dapat membahayakan hewan yang diujicobakan.

Dispersan terbuat dari molekul surfaktan. Molekul itu menempatkan diri pada lapisan antarmuka antara air dan minyak, menurunkan tegangan permukaan pada bagian antarmuka, menghalangi molekul minyak dan air berikatan dengan molekul sesamanya.

Dispersan yang disemprotkan ke tumpahan minyak, tidak akan melenyapkan minyak. Zat kimia ini memecah lapisan minyak menjadi tetesan-tetesan kecil (droplet) sehingga kemampuan lengket minyak berkurang. Dispersan membantu menguraikan gumpalan besar minyak menjadi lebih kecil dan menyebar, membuatnya mudah dicerna oleh mikroba laut.

David Horsup, pejabat riset dan pengembangan di Nalco Energy Services, produsen dispersan yang digunakan pada penanggulangan tumpahan minyak di Deepwater Horizon di Teluk Meksiko, melukiskan cara kerja dispersan yang disemprotkan pada tumpahan minyak sebagai berikut; “Dispersan akan mendispersi minyak menjadi gumpalan-gumpalan kecil sehingga memungkinkan mikroba yang secara alami hidup di laut untuk mencerna gumpalan minyak dan dispersan itu sehingga dapat terurai secara alami dengan cepat.” Tetapi sebagian kalangan menyebut, di lautan lepas, droplet itu akan mengendap di dasar laut sehingga aneka satwa dasar laut rentan terpapar polusi dispersan.

Bagi Dr Bayu Satya, Bsc, pakar penanggulangan tumpahan minyak, apapun bentuknya dan meski selalu dibilang ramah lingkungan oleh para produsennya, dispersan tetaplah bahan kimia berbahaya. “Seluruh produk dispersan mengandung surfaktan, yaitu zat kimia yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3),” kata Bayu Satya, pendiri sekaligus pemilik Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia.

Dalam batas-batas tertentu, dispersan di dalam tubuh masih terbilang aman. Namun jika terpapar dalam konsentrasi banyak dan berlangsung secara kontinyu, dispersan akan menjadi zat kimia yang membahayakan bagi tubuh.

(Baca: Benarkah Pertamina RU V Balikpapan Lalai Tanggulangi Tumpahan Minyak?)

Menurut Bayu, berdasarkan bahan dasarnya, bahan kimia dispersan dijual dalam dua jenis. Yaitu Solvent Base Dispersant, dispersan yang bahan dasar pengantarnya adalah minyak dan Water Base Dispersant atau dispersan yang bahan dasarnya adalah air. Dispersan yang selama ini digunakan Pertamina adalah dispersan jenis Water Base Dispersant.

Penggunaan water base dispersant oleh Pertamina karena dianggap lebih aman dibanding solvent base dispersant. Namun menurut Bayu, dispersan berbahan dasar solvent juga aman, sebab bahan yang digunakan bukan serupa minyak tanah melainkan minyak yang aromatiknya sudah dibuang.

Bayu malah berpendapat, penggunaan water base dispersant oleh Pertamina dalam penanggulangan tumpahan minyak, justru tidak efisien. Sebab minyak dan air memiliki berat jenis yang berbeda. “Logikanya, minyak kalau ditembak air, pasti mental. Jadi penggunaan water base dispersant dalam penanggulangan tumpahan minyak bisa menjadi tidak efisien. Lebih efisien solvent base dispersant karena sama-sama minyak, jadi bisa mengikat,” kata Bayu.

Dispersan produk Indonesia memiliki harga jual yang paling murah di dunia, sekitar 2 – 3 dolar AS/liter. Bandingkan dengan negara-negara lain yang harganya 8 dolar AS/liter. Hanya saja, Bayu menambahkan, meski berharga jual paling murah di dunia, tetapi kenapa Indonesia tidak pernah melakukan ekspor dispersan?

“Hal itu karena kandungan racun yang terdapat dalam dispersan produk Indonesia sangat sedikit, sehingga kemudian penggunaannya menjadi tidak efisien. Untuk mencapai kadar racun 100 misalnya, kita cukup membeli tiga liter dispersan produk asing yang harganya 8 dolar AS/liter atau total 24 dolar AS. Sedangkan untuk mencapai kadar racun yang sama, kita membutuhkan 20 liter dispersan lokal yang harganya 3 dolar AS/liter atau total uang yang harus dibelanjakan 60 dolar AS,” urai Bayu. Meski tidak efisien dan mengandung racun, kata Bayu, penggunaan zat kimia dispersan oleh Pertamina justru mendapat persetujuan dari Ditjen Migas.

Penggunaan dispersan dalam penanggulangan tumpahan minyak sebagaimana dilakukan Pertamina selama ini, Bayu menambahkan, menjadi bukti bahwa Pertamina tidak pernah mengacu pada standar IMO (International Maritime Organization). Padahal IMO memiliki pedoman yang amat jelas tentang penggunaan dispersan. Antara lain, digunakan di perairan yang memiliki kedalaman di atas 10 meter.

Selain itu, penggunaan dispersan dalam menanggulangi tumpahan minyak sangat tidak direkomendasikan karena mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3). Bahkan, kata Bayu, di negara-negara yang sangat bergantung pada perikanan laut seperti Jepang, Taiwan, Norwegia, dan sebagainya, penggunaan dispersan dilarang sama sekali. “Indonesia yang sekarang ini menjadi negara pengekspor ikan terbesar di dunia, penggunaan dispersan seharusnya diperketat atau malah dilarang sama sekali,” ujar Bayu. (has)

Bagaimana menurut pembaca?