Polusi Bisa Merusak Indra Penciuman

101

Jakarta, Tengokberita.com-Indra penciuman merupakan salah kemampuan yang dimiliki oleh manusia untuk membaui sesuatu. Orang bisa mencium aroma makanan, aroma wangi dan aroman busuk karena adanya indra penciuman. Namun, sekitar tiga persen dari populasi dunia diperkirakan menderita anosmia yakni gangguan fungsi penciuman pada saraf olfaktori. Penderitanya tidak mampu mendeteksi bau. Gangguan ini dapat bersifat sementara ataupun permanen.

Hari ini 27 Februari, warga dunia memperingatinya sebagai Hari Peduli Anosmia.

Penurunan indra pencium disebabkan berbagai fakto termasuk faktor alamiah seiring dengan bertambahnya usia.
Seorang ilmuwan ahli evolusi indra penciuman, Dr Kara Hoover mengatakan bahwa polusi jalanan, sampah yang dibiarkan dan rumah yang berantakan, memiliki efek yang merugikan pada hidung manusia.

Indra penciuman kita berkembang dalam lanskap yang sangat kaya di mana kita berinteraksi secara reguler dengan lingkungan,” ucapnya saat berbicara di Konferensi Sains terbesar di Boston seperti dilansir laman mirror.co.uk.

Menurut Dr Hoover, sekarang manusia berada di lingkungan yang sangat berpolusi dan polusi merusak indera penciuman. Artinya, polusi menempatkan manusia pada risiko yang lebih besar untuk hal-hal gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, dan juga menempatkan pada risiko yang lebih besar untuk masalah kesehatan fisik seperti obesitas.

Bukan hanya kesehatan, Dr Hoover juga mengungkapkan bahwa polusi dapat membuat manusia bermasalah dengan ‘kesehatan sosial’ seperti tidak bisa menangkap isyarat sosial dari manusia lain.

Sementara itu, Anosmia adalah kondisi indra penciuman tidak mampu berfungsi normal. Sebagian besar kasus anosmia bisa sembuh, namun sebagian lainnya, tidak bisa disembuhkan karena gangguan masalah kesehatan.

Sepertin diketahui ketika mencium bau, sel saraf penciuman akan memberikan sinyal ke otak. Lalu otak akan mengidentifikasi dan mengenali bau. Namun, indra penciuman penderita anosmia tidak bisa berfungsi secara semestinya, sehingga tidak dapat membedakan bau.

Penyebab Anosmia beragam mulai dari hidung tersumbat oleh lendir yang melapisi bagian dalam hidung, seperti pilek, flu, sinusitis, reaksi alergi atau reaksi sistem pernapasan pada kualitas udara yang buruk.

Anosmia juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi seperti polip yang menghambat saluran pernapasan, kelainan bentuk tulang hidung dan cedera pada hidung akibat trauma kepala atau operasi, atau bahkan gangguan pada saraf hingga sistem saraf pusat.

Sebab lain tindakan medis juga dapat menyebabkan anosmia, termasuk obat antibiotik, antiperadangan, antidepresan, antihipertensi, obat untuk penyakit jantung, pengobatan radiasi untuk kanker di leher dan kepala. Selain itu, penyalahgunaan obat terlarang seperti kokain dapat menyebabkan seseorang tidak dapat mencium bau.

Bagi penderita Anosmia harus wapada terutama pada makanan yang dikonsumsi. Lihat tanggal kedaluarsa untuk mencegah keracunan.
Anosmia tidak dapat mencium asap kebakaran yang mungkin saja bisa terjadi di rumah sehingga bagi penderita anosmia disarankan untuk memasang alarm kebakaran atau pendeteksi asap, terutama di sekitar area dapur. Sehingga keamanan menjadi lebih terjaga.
Kemudian tidak dapat mencium bau gas juga berbahaya bila terjadi kebocoran gas di dapur rumah. Disarankan untuk mempertimbangkan mengganti perangkat rumah tangga yang menggunakan gas dengan perangkat elektrik.

Ketidakmampuan mencium bahan- bahan kimia atau bau bahan berbahaya lain, membuat penderita anosmia harus jeli dalam membeli setiap produk yang mengandung bahan kimia.
Sebagian penderita anosmia juga mengalami penurunan nafsu makan yang cukup berarti. Untuk mengatasinya upayakan agar tetap menjaga dan memerhatikan keseimbangan asupan nutrisi harian. Menimbang bobot tubuh secara rutin dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai kondisi gizi tubuh.

Bagaima cara Mengatasi Anosmia”
Untuk mengetahui anosmia yang diderita dan penyebabnya, dokter biasanya akan menanyakan riwayat kesehatan sang pasien. Jika pemeriksaan fisik sudah dilakukan, dokter umumnya meminta pemeriksaan pencitraan penunjang, seperti endoskopi hidung, foto Rontgen, CT scan, atau MRI pada bagian tengkorak kepala atau untuk mengetahui penyebab dari anosmia yang diderita oleh si pasien.

Jika anosmia disebabkan karena alergi, sinus, ataupun flu biasanya sembuh dengan sendirinya. Tetapi jika tak kunjung sembuh, segera konsultasikan kepada dokter untuk memperoleh solusi yang tepat.
Sebab Anosmia adalah kondisi yang tidak bisa disepelekan. Penderita Anosmia mempengaruhi kualitas hidup seseorang, sekaligus memicu komplikasi seperti depresi dan penurunan kualitas gizi. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?