Putin Kembali Berkuasa, Era ‘Managed Democracy’ Berlanjut

109

Moskow, Tengokberita.com– Mikhail Prokhorov (46), salah satu warga Rusia yang sempat mengajukan dirinya maju dalam pemilihan presiden pada 4 Maret 2012 silam pernah mengatakan bahwa era demokrasi yang dikelola  (managed democracy) sudah berakhir. Sayang, dugaan Prokhorov itu meleset. Sebab sang pemegang ‘managed democracy’ Vladimir Putin hingga kini tetap berkuasa. Bahkan, dia akan memperpanjang kekuasaannya itu hingga 2024 karena mantan mata-mata ini kembali memenangkan pemilihan Presiden 2018. Cukup telak, angkanya di atas 70 persen. Artinya hingga saat ini belum ada satupun figur pemimpin Rusia yang mampu menggulingkan Putin.

Sudah 17 tahun dia berkuasa atas Rusia. Karena itu beberapa studi mencoba memahami bentuk demokrasi yang dijalankan oleh Putin tersebut. Salah satunya Fareed Zakaria (2002) yang menyebutnya dengan terminologi demokrasi iliberal, demokrasi semu, demokrasi separuh, demokrasi berintensitas rendah, demokrasi kosong, atau rezim hibrida, adalah sistem pemerintahan yang tetap melaksanakan pemilu, tetapi mengekang kebebasan sipil sehingga warga tidak mengetahui aktivitas pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Demokrasi iliberal bukan ‘masyarakat terbuka’

Larena itu Tindakan Pemerintah Rusia untuk membungkam aksi kelompok oposisi dengan cara-cara represi dan kekerasan bukan hal yang tabu. Ini juga yang dilakukan putin.

Misalnya aksi protes kelompok oposisi yang digawangi oleh kelompok organisasi-payung, The Other Russia, kelompok-kelompok penentang Putin, dihadapi dengan mobilisasi kekuatan militer dan penangkapan atas tokoh-tokohnya.

Aksi-aksi demikian tidaklah memberikan dampak apapun bagi upaya pemakzulan kekuasaan Putin. Popularitas sang Presiden di dalam negeri tetap belum dapat tertandingi oleh figur manapun di Rusia, termasuk oleh kandidat-kandidat yang berlaga di dalam Pemilu Presiden 2018.

Demokrasi rancangan Putin ini memiliki beberapa ciri-ciri antara lain:

1.Menguatkan legitimasi Presiden secara intensif,seperti mengatur penuh hubungan pemerintahan di tingkat regional dan lokal agar harmonis serta tak terjadi tumpangtindih antar keduanya

2.Negara mengambil kontrol media,karena kebebasan media acapkali memperlihatkan pemberitan-pemberitaan yang melemahkan legitimasi dari pemerintah,sehingga pemerintah bias menjaga ritme dari eksistensi media yang semena-mena

3.Mereformasi perubahan undang-undang sistem pemilu dan aturan partai politik sehingga memungkinkan kontrol pemerintah dan kompetisi politik lebih dominan pada pengambilan keputusan pusat.

Karena itulah, meski Putin mencalonkan diri lewat jalur independen, tak ada satupun figur yang mampu menggoyahkan kekuasaannya, meski itu lewat jaluar partai politik. Lihat saja, penantang Putin dari Partai Komunis; Pavel Grudinin hanya mampu meraup 11,9 persen suara atau berada di urutan kedua. Kemudian Vladimir Zhirinovsky, pemimpin Partai Liberal Demokratik meraih 6,7 persen suara.

Maka tak berlebihan bila Vladimir Putin berkelakar mengenai berapa lama dia akan menjabat sebagai Presiden Rusia. Putin menuturkan, dia mungkin saja akan menjabat sebagai Presiden Rusia hingga berusia 100 tahun ke depan.

Apa yang dikatakan itu beralasan karena di bawah Putin, demokrasi telah diatur dan dijalankan sebagai bungkus sistem tanpa subtansi. Pemilu dijalankan secara berkala, namun peraturannya dirombak agar Putin dapat kembali berkuasa.

Putin yang sudah sejak tahun 2000 baik sebagai presiden atau pun perdana menteri adalah mantan agen KGB yang kini dianggap sebagai figur Bapak Nasional Rusia yang berani menampilkan negaranya dalam persaingan global. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?