Rantai Peristiwa Pencemaran Minyak yang Membahayakan Alam Hingga Manusia (1)

795

Kesehatan, Tengokberita.com – Secara definitif, tumpahan minyak di laut adalah lepasnya minyak baik langsung atau tidak langsung ke lingkungan laut yang berasal dari kegiatan pelayaran, kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi, atau kegiatan lain (Pasal 1 angka 2 Perpres No 109 tahun 2006).

Tumpahan minyak di laut atau oil spill menjadi sumber penyebab terjadinya pencemaran di laut. Dan, pencemaran minyak di laut selalu menjadi bencana mengerikan. Hal ini terkait dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem laut yang ditimbulkannya.

Minyak akan membunuh aneka biota laut, menghancurkan terumbu karang, mematikan vegetasi laut berupa tanaman mangrove, merenggut penghasilan para nelayan, menghancurkan bisnis rumput laut dan budidaya ikan laut masyarakat, dan mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia yang cukup serius bahkan berujung pada kematian.

Pada kasus tumpahan minyak Exxon Valdez di perairan Alaska pada tahun 1989, misalnya, lebih dari 250.000 ekor burung laut, 2.800 berang-berang laut, ribuan spesies ikan dan hewan laut lainnya, mati. Sedangkan pada kasus tumpahan minyak Deepwater Horizon di Teluk Meksiko pada 2010, ratusan responder (pekerja pembersih tumpahan minyak di laut) dan 35 warga Lousiana, Amerika Serikat, mengalami gangguan kesehatan cukup serius akibat terpapar minyak yang tumpah di perairan Teluk Meksiko.

Gangguan kesehatan yang dialami manusia itu, terjadi pada jangka pendek. Dalam jangka panjang, gangguan kesehatan pun terjadi ketika manusia mengonsumsi ikan laut yang sudah terpapar minyak yang tumpah di laut.

Tumpahan minyak di laut juga berpotensi akan hilangnya spesies biota laut dari perairan yang terdampak. Hal ini bisa terjadi lantaran rusaknya tanaman mangrove. Minyak yang menempel dan menutupi akar dalam waktu lama, akan membuat akar mangrove menjadi busuk dan berujung pada kemematian vegetasi pantai tersebut.

Akar mangrove selama ini menjadi tempat bertelur sejumlah spesies ikan. Kematian mangrove akibat tumpahan minyak, akan mematikan telur-telur dan larva-larva ikan sehingga berpotensi menghilangnya spesies ikan dari perairan itu.

(Baca: Walhi : Pertamina Bertanggungjawab Mutlak Terhadap Petaka di Teluk Balikpapan)

Mangrove juga menjadi habibat bagi sejumlah spesies ikan seperti moluska, udang, ikan, dan biota laut lainnya. Mangrove yang rusak dan mati akan membuat aneka spesies ikan itu berpindah tempat, mencari habibat baru yang lebih sehat.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi manusia untuk memulihkan ekosistem laut yang rusak akibat tumpahan minyak. Bahkan tak jarang, upaya recovery ekosistem laut bisa berlangsung hingga lebih dari 10 tahun, tergantung tingkat keparahan dan luas area terdampaknya.

Bahaya yang timbul akibat tumpahan minyak tak hanya berasal dari minyak itu sendiri secara langsung. Potensi bahaya yang juga tak kalah mengerikannya muncul pada saat dilakukan upaya penanggulangan tumpahan minyak di laut.

Hal ini terkait dengan bahan-bahan kimia yang digunakan selama kegiatan pembersihan tumpahan minyak di laut. Diketahui, perbedaan berat jenis antara air dan minyak membuat minyak mengambang di permukaan air laut. Karena itu, minyak harus diuraikan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.

Untuk menguraikan minyak menjadi partikel-partikel yang lebih kecil di laut, digunakan bahan kimia dispersan (dispersant). Dispersan yang disemprotkan ke tumpahan minyak, tidak akan melenyapkan minyak. Zat kimia ini memecah lapisan minyak menjadi tetesan-tetesan kecil (droplet) sehingga kemampuan lengket minyak berkurang. Dispersan membantu menguraikan gumpalan besar minyak menjadi lebih kecil (droplet) dan menyebar, membuatnya mudah dicerna oleh mikroba laut.

David Horsup, pejabat riset dan pengembangan di Nalco Energy Services, produsen dispersan yang digunakan pada penanggulangan tumpahan minyak di Deepwater Horizon di Teluk Meksiko, melukiskan cara kerja dispersan yang disemprotkan pada tumpahan minyak sebagai berikut; “Dispersan akan mendispersi minyak menjadi gumpalan-gumpalan kecil sehingga memungkinkan mikroba yang secara alami hidup di laut untuk mencerna gumpalan minyak dan dispersan itu sehingga dapat terurai secara alami dengan cepat.”

Tetapi sebagian kalangan menyebut, di lautan lepas, droplet itu akan mengendap di dasar laut sehingga aneka satwa dasar laut rentan terpapar polusi dispersan. Aneka biota laut yang sudah terpapar dispersan itu kemudian dikonsumsi manusia. (has)

Bagaimana menurut pembaca?