Rantai Peristiwa Pencemaran Minyak yang Membahayakan Alam Hingga Manusia (2-Habis)

815
Satu ekor ikan pesut ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan, akibat perairan Teluk Balikpapan tercemar minyak mentah Sabtu (31/3/2018).

Kesehatan, Tengokberita.com – Minyak mentah (crude oil) atau dikenal dengan sebutan minyak bumi (petroleum), terbentuk dari fosil tumbuhan dan hewan yang terdekomposisi (teruraikan) jutaan tahun lalu atau bahkan lebih lama lagi. Dan setelah melewati proses geologi yang berlangsung selama jutaan tahun pula, lapisan yang mengandung fosil tumbuhan dan hewan yang telah terdekomposisi selama jutaan tahun itu mengalami pengendapan hingga menempati ruang-ruang di perut bumi.

Untuk mengambilnya, manusia melakukan pengeboran dan penyedotan, baik di darat (on shore) maupun di tengah laut atau lepas pantai (off shore). Minyak bumi yang keluar dari perut bumi itu berupa cairan kental berwarna cokelat gelap atau kehijauan dan mudah terbakar. Minyak tersebut masih ‘kotor’ karena bercampur dengan air dan aneka senyawa lainnya.

Air dan berbagai senyawa lain itu kemudian dipisahkan dengan cara menambahkan zat asam dan basa pada minyak yang baru keluar dari perut bumi tersebut. Tujuannya supaya dihasilkan senyawa hidrokarbon yang menjadi komponen utama minyak bumi. Karena terbentuk dari fosil, minyak bumi merupakan campuran berbagai zat organik dengan senyawa kimia utamanya hidrokarbon.

(baca: Rantai Peristiwa Pencemaran Minyak yang Membahayakan Alam Hingga Manusia (1))

Meski sudah dipisahkan dari unsur air dan berbagai senyawa lain, minyak tersebut masih mentah dan belum bisa digunakan untuk berbagai keperluan manusia. Minyak mentah itu kemudian dibawa ke kilang untuk diolah menjadi berbagai jenis sesuai keperluan. Yaitu sebagai sumber energi/bahan bakar (gas, minyak tanah, solar, premium, pertamax, dsb), pelumas, aspal, hingga aneka bahan dasar bagi kebutuhan industri petrokimia (yang kemudian menghasilkan pupuk, pestisida, bahkan plastik).

Secara kimiawi, minyak mentah (crude oil) merupakan campuran komplek hidrokarbon plus senyawa organik dari Sulfur, Oksigen, Nitrogen, dan senyawa-senyawa yang mengandung konstituen logam (dalam jumlah kecil) seperti Nikel (Ni), Besi (Fe), Tembaga (Cu), Merkuri (Hg), Arsen (Ar), dan Timbal (Pb). Kandungan aneka senyawa kimia itu menjadikan minyak bumi sebagai bahan berbahaya apabila tumpah dan mencemari lautan atau perairan.

Minyak mentah yang telah melalui proses pemisahan dari air dan senyawa-senyawa lain, ditampung di tempat penampungan. Dari sini, minyak mentah itu kemudian dikirim ke kilang minyak untuk diolah menjadi berbagai kebutuhan manusia seperti bahan bakar, aspal, pelumas, aneka bahan dasar untuk industri petrokimia, dsb.

Jika tumpah dan mencemari laut atau perairan, minyak mentah akan merusak dan membahayakan kelangsungan hidup lingkungan di kawasan perairan dan pantai, membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup manusia dan aneka makhluk hidup laut dan pantai lainnya.

Minyak bumi, kata Sekretaris Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sigit Reliantoro, kemudian dikategorikan sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3) yang memerlukan penanganan khusus. Penanganan khusus itu, kata Sigit, wajib dilakukan setiap pelaku industri Migas, mulai dari kegiatan di hulu (proses pengambilan hingga diolah di kilang-kilang minyak) hingga hilir (penujualan BBM ke konsumen di SPBU). Bahkan, saking berbahayanya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, limbahnya pun memerlukan penanganan khusus.

Menurut Sigit, dalam minyak mentah setidaknya terdapat empat bahan berbahaya yang bisa berdampak langsung terhadap gangguan kesehatan manusia. Keempat bahan berbahaya tersebut adalah Benzene (C6H6), Toluene (C7H8), Cylene (C8H10), dan logam berat seperti Tembaga, Arsen, Merkuri, dan Timbal.

Benzene, Toluene, dan Cylene merupakan senyawa kimia hidrokarbon. Sedangkan logam berat merupakan senyawa non-hidrokarbon. Pada tubuh manusia, kedua jenis senyawa kimia yang terkandung dalam minyak mentah itu, akan memicu gangguan kesehatan yang berbeda. Gangguan kesehatan yang akan terjadi dari paparan senyawa hidrokarbon, terbilang lebih ringan dibanding cemaran logam berat.

Mereka yang terpapar Benzene misalnya, akan mengalami pusing atau sakit kepala, mual, pingsan, iritasi kulit dan mata. Gangguan kesehatan yang sama juga akan terjadi jika terpapar Toluene, namun jika sampai pada tahap kronis akan mengalami gangguan syaraf pusat. Gangguan kesehatan yang sama juga terjadi jika terpapar Cylene.

Sementara senyawa logam berat dari minyak mentah akan memicu gangguan kesehatan yang lebih serius seperti ginjal, kanker, liver, kerusakan otak, dan sebagainya. “Untuk yang terpapar arsen, dapat merusak ginjal dan kanker. Sedangkan merkuri akan menyerang tremor atau kerusakan syaraf. Untuk yang terpapar timbal dan tembaga akan mengalami gangguan kerusakan otak, kerusakan liver, dan ginjal,” kata Sigit kepada tengokberita.com, Selasa (8/5/2018) malam.

Logam Berat
Dari keempat bahan berbahaya tadi, logam berat merupakan senyawa paling berbahaya ketika terjadi pencemaran minyak mentah di laut. Sebab, kata Sigit, logam berat yang terkandung dalam minyak mentah seperti Tembaga, Arsen, Merkuri, dan Timbal akan mengendap ke dasar laut. Di dasar laut, logam berat itu akan mencemari terumbu karang, aneka mahkluk hidup yang menempel di atas terumbu karang seperti anemon laut, pasir, dan habitat biota laut lainnya yang berada di bagian dasar.

Sementara menurut Dr Bayu Satya, Msc, pakar penanggulangan tumpahan minyak, bahaya pencemaran minyak di laut tak hanya terjadi secara langsung di saat pencemaran terjadi. Potensi bahaya juga bisa terjadi ketika upaya penanggulangan tumpahan minyak dilakukan, terutama pada proses pembersihan tumpahan minyak yang menggunakan bahan kimia dispersan.

Bahan kimia yang disemprotkan ke lapisan minyak yang mengapung di permukaan air laut itu, kata Bayu, tidak akan menghilangkan sama sekali cemaran minyak. “Bahan kimia ini hanya memecah atau mengurai lapisan minyak menjadi tetesan-tetesan kecil (droplet) sekaligus menghilangkan daya lengketnya sehingga droplet itu tidak akan bisa menyatu lagi satu sama lain membentuk gumpalan minyak. Laut pun terlihat bersih,” kata Bayu saat dihubungi Tengokberita.com.

Dalam bentuk droplet, minyak menjadi lebih mudah dan cepat terbawa arus air laut dan menyebar ke area yang lebih luas. Droplet kemudian dikonsumsi mikroba laut seperti plankton yang hidup dengan mengandalkan arus air laut.

Begitu dikonsumsi plankton, mata rantai bahaya logam berat dari minyak mentah dengan medium biota laut itu pun dimulai. Plankton yang sudah tercemar bahan berbahaya itu kemudian disantap aneka biota laut seperti curstacea (jenis udang-udangan), aneka jenis kerang laut, siput laut, dan sejumlah satwa kecil laut lainnya.

Udang atau satwa laut kecil lainnya yang sudah tercemar bahan berbahaya akibat mengonsumsi plankton itu kemudian dimakan ikan yang lebih besar. Lalu ikan tersebut dimakan oleh ikan yang berukuran lebih besar darinya, dan begitu seterusnya. Ikan dan udang atau kerang maupun kepiting yang sudah terkontaminasi logam berat yang berasal dari minyak mentah yang tumpah tadi, lalu ditangkap para nelayan dan dijual ke pasar untuk selanjutnya dibeli dan dikonsumsi manusia. (has)

Bagaimana menurut pembaca?