Revolusi Mental Lewat Seni Beladiri

44

Jakarta, Tengokberita.com-Revolusi mental sepertinya terdengar sesuatu yang besar dan membutuhkan proses yang lama. Namun, ada satu cara yang tidak terlalu rumit untuk menerapkan revolusi mental itu. Salah satunya mengarahkan anak untuk belajar beladiri sejak usia belia.

Beladiri bukan latihan berkelahi. Sebab salah satu tujuan belajar beladiri bagi anak-anak adalah memusatkan perhatian dan pikiran kepada tujuan atau sasaran tertentu. Ini menjadi salah satu poin penting yang harus dicapai dalam latihan bela diri.

Manfaat lain berimbas pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada aspek lain, termasuk dalam akademik dan sosial. Bela diri pun menjadi salah satu pilihan terapi bagi anak-anak yang hiperaktif dan sulit memusatkan fokus, selain menjadi sarana ampuh penyaluran energi mereka.

Drs Aslam M.pd yg seorang pelatih silat sabuk hitam yang telah mengajar silat selama 20 tahun lebih dan juga seorang Kepala sekolah SD Islam serta dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan PGSD di salah satu Universitas terbesar di DKI Jakarta ini kepada tegokberita.com mengatakan jika pencaksilat itu memiliki keunikan tersendiri.“Pencak silat adalah beladiri yang punya keunikan . Di dalamnya ada keberanian, kekuatan dan ketegasan tapi juga ada kehalusan dan kelembutan. Maka itulah juga merupakan karakteristik bangsa kita yang sebenarnya,”ujar dia.

Latihan bela diri bagi anak, kata dia, sebagai bagian dari olah fisik juga memberikan manfaat kesehatan untuk anak. Jika terbiasa berolahraga, anak akan tumbuh menjadi bugar dan sehat. Gerakan-gerakan pada latihan beladiri juga akan melatih ketangkasan pada anak. Ia akan terlatih refleks saat menangkis serangan lawan, kuat menerima pukulan di badan, serta gesit bergerak dalam pertarungan.

Menurut dia, mengajarkan anak beladiri sejak dini bukan untuk menjadi jagoan, tetapi memberi ia kemampuan untuk membela dan melindungi diri dari segala bentuk kejahatan.

Pencak Silat, ungkap dia, sudah dimasukkan sebagai olahraga bela diri pilihan wajib sekolah pada kegiatan Ekskul di sekolah-sekolah DKI Jakarta dengan keluarnya Surat Edaran No.176/SE/2009 oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Drs. H. Taufik Yudi Mulyanto M.Pd. Hal itu berlangsung di era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Sementara itu Jerry Wykoff, dan Barbara C Unel dalam buku Teachable Virtues: Practical Ways to Pass on Lessons of Virtue and Character to Your Children (Perigee, 1995) dan Dorothy Law dalam Children Learn What They Live dikatakan bahwa anak anak belajar tentang hidup dan bagaimana menjalaninya sejak dini. Anak di atas usia empat tahun perlu diajarkan mengenal dan mempunyai keterampilan sendiri untuk menghadapi bahaya yang disebut knowledge of sense of awareness. Meski kita tak mengharapkan si kecil menghadapi keadaan bahaya, tapi penanaman sikap waspada bisa membantunya merasakan hal-hal yang perlu diwaspadai atau mengundang bahaya. (jar/rot)

Bagaimana menurut pembaca?