“Run For Manhattan,” Cara Made Wianta Memotret Perjanjian Breda

“Run-For-Manhattan”-Cara-Made-Wianta-1
Pameran “Run For Manhattan” (Foto: Utami tengokberita.com)

Jakarta, Tengokberita.com – 350 tahun silam, tepatnya pada bulan Juli 1667, Pulau Run yang berada di perairan Laut Banda ditukar dengan satu kawasan di Pantai Timur Amerika Serikat yang kini bernama Manhattan. Lewat perjanjian Breda, pulau penghasil pala ini diserahkan kepada penjajah Belanda, sedangkan Manhattan menjadi milik Inggris.

Namun, tiga setengah abad setelah perjanjian itu diteken, wajah pulau Run dan Manhattan sangat jauh berbeda. Manhattan menjadi kawasan elit yang mahal, sedangkan Pulau Run nyaris tak dikenal. Perjalanan inilah yang coba ditangkap perupa Made Wianta lewat pameran tunggal bertajuk “Run For Manhattan” yang dihelat Ciptadana Art, Jakarta mulai Kamis (23/11/2017).

Pameran “Run For Manhattan” (Foto: Utami tengokberita.com)

Lewat 42 karya lukisan dan patung yang dipamerkan di Ciptadana Center ini, Made Wianta mengajak kita untuk membayangkan apa yang telah terjadi 350 tahun silam dan apa yang akan terjadi 350 tahun ke depan dengan mencoba menghubungkan titik-titik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Di mata seniman sekaligus cenayang ini, transaksi yang dulu sangat berharga ini ibarat lelucon kosmik surealis. Pasalnya, Manhattan kini menjadi daya tarik kapital sedangkan Pualu Run yang dulu sangat berharga kini justru hanyalah sebuah pualu kecil yang terlupakan. Dan, hal serupa sangat mungkin terjadi dalam kurun 350 tahun ke depan. Apa yang kini sangat berharga tak lagi punya arti apa-apa di masa yang akan akan datang.

Ini pernyataan sarkastik dari Made Wianta, sebuah permainan kata-kata sekaligus mantra misterius yang diungkapkan dengan tarikan garis yang menghubungkan titik-titik yang sebelumnya tidak terlihat,” ujar Emmo Italiander yang bertindak sebagai kurator dalam pameran ini.

(Baca: Ini 7 Tempat di Jakarta yang Tepat Sebagai Penghilang Stres di Akhir Pekan)

Emmo menambahkan, pameran ini bukan sekadar pernyataan getir tentang kondisi sosial ekonomi yang berhasil direkam seorang Wianta. Tapi juga merangkul tahapan-tahapan karya kreatif yang telah dilalui pelukis asal Bali ini.

Dan, setiap periode dari masa kreatif Wianta mula dari periode Karangasem, Periode titik, Periode segiempat, Periode segitiga, Periode perakitan, Periode kaligrafi, Periode kalender dan Periode media campuran dihadirkan di pameran yang akan berlangsung hingga 8 Desember ini.

Lukisan-lukisan itu hadir dalam beragam gaya, mulai dari surealis hingga abstrak yang merupakan wujud proses berkaryanya yang ditandai dengan pola piker yang tidak linier.

Bagi saya, yang penting adalah waktu. Waktu yang saya jalani sejak lahir, yang saya jalani saat ini dan di masa yang akan datang, dan waktu yang saya jalani untuk hidup,” terang Made Wianta tentang proses kreatif yang dijalaninya selama ini.

Pemaknaan waktu itu dijalani Wianta sebagai seorang seniman dengan fleksibilitas yang sangat beragam. Selain seni lukis, pelukis yang sangat disiplin dan tekun dalam berkarya ini juga terlibat aktif dalam seni batik, teater, tari, musik, puisi dan kaligrafi. Diakuinya semua ini mempengaruhi pendekatan dirinya dalam berkarya. Dan seni merupakan caranya berkomunikasi dengan orang lain. (emu)

Bagaimana menurut pembaca ?