Home » News » Sosok » Saat Butet Ingin Menggampar Owi

Saat Butet Ingin Menggampar Owi

Jakarta, Tengokberita.com – Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir memang terlihat begitu dingin di lapangan ketika menghabisi lawan-lawannya di Olimpiade Rio 2016. Brasil. Bahkan, pasangan ganda campuran nomor wahid asal Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei termasuk yang menjadi korban mereka, sebelum mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) untuk meraih medali emas.

Namun di balik itu semua, ada ketegangan yang luar biasa yang dihadapi ganda campuran terbaik Indonesia itu. Tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya muncul banyak hal-hal lucu di antara keduanya di luar lapangan. Tentu saja tujuannya untuk menghilangkan ketengan satu dengan yang lain. Nah, inilah sepenggal kisah Liliyana Natsir yang akrab disapa Butet itu.

Dalam banyak kesempatan sebelum final, Owi (sapaan Tontowi Yahya) terus memberi semangat kepada Butet.  “’Cik (panggilan Butet) fokus Cik, jangan tegang Cik, percaya sama saya Cik. Cik, tos dulu Cik. Semangat Cik,’” kata Butet menirukan Owi.

Namun, ternyata hal itu terus menerus diucapkan Owi. “Begitu terus ngomongnya,” imbuh perempuan asal Manado itu. Butet mengaku awalnya senang dan semangat diberi dukungan oleh Owi.

“Tapi karena diulang-ulang terus, lama-lama saya jadi sebel. Kalau di luar pertandingan sudah saya gampar tuh anak,’” imbuh atlet kelahiran Manado itu, sambil tertawa lebar.

Ternyata, ucapan penyemangat tersebut adalah pengalihan karena Owi juga sangat tegang. Sesaat sebelum masuk lapangan Riocentro-Pavilion 4, Barra da Tijuca, Owi berbisik ke telinga Butet. “’Cik, bantu saya Cik, saya tegang,’” kata Butet menirukan Owi.

“Walah, dia pikir saya bisa tenang gitu? Padahal, jantung saya rasanya deg-degan luar biasa. Rasanya sudah mau copot!” tambahnya.

Owi curhat kepada Butet karena dirinya menganggap partnernya itu adalah pemain yang sangat tenang dan bisa mengatasi tekanan.  Apalagi, pada 2008, Butet pernah bermain di final Olimpiade Beijing 2008, berpasangan dengan Nova Widianto.

Sebenarnya, sosok Lilyana Natsir memang sudah tidak asing bagi penggemar bulutangkis di Tanah Aire. Pebulutangkis kelahiran Manado, 9 September 1985 itu, berhasil merebut gelar juara dunia bulutangkis pada 2013 bersama Owi. Dia merupakan putri kedua dari Beno Natsir dan Olly Maramis. Pebulutangkis dengan tinggi 168 cm ini memiliki seorang kakak perempuan bernama Calista Natsir.

Kecintaan Butet terhadap olahraga bulutangkis telah muncul sejak masih berusia belia. Itu terbukti dari bergabungnya dia dengan klub bulutangkis Pisok, Manado, ketika masih di sekolah dasar. Keseriusannya di dunia bulutangkis mulai tampak ketika berusia 12 tahun. Saat itu dia memutuskan pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan klub PB Tangkas di Jakarta. Tiga tahun sesudahnya, ia sukses masuk pemusatan latihan nasional.

Lilyana pada mulanya dipasangkan dengan Vita Marissa di partai ganda putri. Melalui arahan sang pelatih, Richard Mainaky, atlet ini kemudian bersanding dengan Nova Widianto di lapangan sejak 2004. Keputusan Richard Mainaky terbukti sukses. Pasangan Nova-Lilyana berhasil menyabet sederet penghargaan seperti Singapore Open (2004), SEA Games (2005, 2007), Juara Dunia di Amerika Serikat (2005), Juara Taiwan Open (2006), Indonesia Open (2005) dan Runner-Up All England Open Super Series (2008).

Namun 2009 jadi tahun terakhir pasangan Nova-Lilyana. Usia Nova yang menginjak 35 tahun menjadi alasan utama PBSI menyudahi pasangan dengan beda usia 8 tahun tersebut. Selepas kepergian Nova, dia bersanding dengan rekan barunya, Tontowi Ahmad.

Tak butuh waktu lama bagi Lilyana dan Owi untuk saling menyesuaikan pola bermain. Mereka berhasil membawa pulang gelar juara di turnamen Macau Open Grand Prix Gold 2010. Saat itu mereka berhadapan dengan rekan senegara sendiri, Hendra Aprida Gunawan dan Vita Marissa. Menang dengan skor 21-14, 21-18, pasangan ini mulai menunjukkan kapasitas mereka.

Keduanya pun semakin mantap berprestasi. Beberapa torehan juara dari ganda campuran ini antara lain Juara Malaysia Open GP Gold 2011, Juara Sunrise India Open Super Series 2011, Juara Swiss Open 2012, Runner-Up Yonex Denmark Open 2012 dan masih banyak lainnya.

Namun, di antara gelar juara yang berhasil mereka dapatkan, menjadi Juara Yonex All England Badminton Championships 2013 bisa dibilang adalah prestasi terbesar mereka. Hal tersebut karena sektor ganda campuran Indonesia terakhir kali keluar menjadi juara di event yang sama 33 tahun yang lalu.

Tak hanya itu, pasangan ini kembali membawa kebanggaan bangsa di 2013. Owi dan Butet keluar sebagai juara dunia lewat ajang pertandingan BWF World Championship di Guangzhou, Cina. Mereka mengalahkan ganda campuran tuan rumah, China, Xu Chen-Ma Jin. Pertarungan olahraga raket yang terjadi dalam 3 babak tersebut berhasil dimenangkan Tontowi dan Lilyana dengan skor 21-13, 16-21 dan 22-20.

Dalam urusan kehidupan pribadi, Butet yang menyukai masakan Manado ini diketahui masih single. Meski begitu, dia beberapa kali diisukan menjalin asmara dengan rekan di lapangan. Nama Hendra Setiawan dan Hendra Wijaya adalah sosok pebulutangkis yang pernah digosipkan menjadi kekasih Lilyana. Namun, menanggapi hal tersebut, atlet tomboy ini menjelaskan bahwa dirinya masih belum punya pacar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

‘Bang Dzoel’ Fotografer Difabel Yang Mendunia

Jakarta, Tengokberita.com-Dalam sebuah wawancara dengan Aljazeera Bang Dzoel mengatakan bahwa untuk menjadi yang terbaik tidak ...

Saat Butet Ingin Menggampar Owi

Tengok Berita red Berita Hari ini: 3 min
0