Siapakah Syamsul Fuad, Si Pencipta Karakter Pengki dalam Benyamin Biang Kerok?

947

Figur, Tengokberita.com – Usia Syamsul Fuad tak lagi muda. Tahun 2018 ini usianya sudah menapaki 82 tahun. Tapi, jangan tanya soal semangat kerjanya. Dia hampir tiap sore berangkat dari rumahnya di wilayah Jalan Kembang, Kwitang, Jakarta Pusat ke kantor Pos Kota di jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Meski namanya tak lagi masuk dalam jajaran redaksi, Syamsul masih rajin memberikan masukan kepada rekan-rekan wartawan muda di jajaran redaksi Pos Kota. Dia memang sosok lelaki pekerja keras dan tidak suka meminta bantuan kepada anak-anaknya. Karena itu hingga usia 82 dia tetap beraktivitas.

Persingungannya dengan dunia film berlangsung saat dia masih aktif sebagai wartawan di harian Warta Berita yang banyak mengulas soal film Indonesia. Syamsul Fuad sejatinya adalah seorang wartawan. Dia pernah bekerja di majalah Reporter, harian/mingguan Pemuda, harian Merdeka, harian Warta Berita dan mingguan Trisakti (1955-1971).

(baca: Syamsul Fuad: Fisik Boleh Tua, Tapi Otak Gak Kalah Sama Dia)

Namun sejak terlibat jadi figuran dalam film “Menjusuri Djedjak Berdarah” pada 1967, karir wartawannya mulai ‘ditinggal’. Dia lebih banyak berkiprah di dunia film. Apalagi, kemunculannya dalam film pertama itu mendapatkan respons positif para pengamat film maupun masyarakat.

Saat bermain dalam film yang disutradarai Misbach Jusa Biran itu Syamsul dinobatkan sebagai “Pendatang Baru Terbaik” pada Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967 di Jakarta. “Sejak itu saya mulai sibuk di film,” kata Syamsul.

Karirnya di bidang film naik jadi Pimpinan Unit dalam film “Bali” dan “Kutukan Dewata,” yang diproduksi tahun 1970. Kemudian menjadi Pembantu Sutradara sejak tahun 1970 dalam film “Ananda“.

Sebagai pembantu Sutradara, Syamsul Fuad hinga tahun 1974 sudah menghasilkan 11 buah film bersama Nawi Ismail. Misalnya: “Banteng Betawi” (1971), “Mereka Kembali“(1972), “Biang Kerok” (1973) dan “Jagoan Tengik” (1974). Naskah Biang Kerok adalah naskah pertamanya yang dibuat atas permintaan Nawi Ismail.

Karirnya terus naik dan menjadi Sutradara penuh sejak akhir tahun 1974 lewat film “Musuh Bebuyutan.” Filmnya yang lain “Raja Lenong” (1975), “Benyamin Jatuh Cinta“(1976), “Raja Copet” (1977), “Gudang Uang“(1978), “Dukun Kota” (78) “Remaja Pulang Pagi” (78) dan lain-lain.

Sementara sebagai wartawan, Syamsul Fuad pernah duduk sebagai pengurus PERPEFI dari tahun 1960 hingga PERPEFi berubah menjadi PWI seksi Film. Ia juga pernah menjabat Ketua Biro Organisasi PWI Jaya tahun 1970. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?