Syamsul Fuad: Fisik Boleh Tua, Tapi Otak Gak Kalah Sama Dia

931
SYAMSUL FUAD (Foto: Tengokberita.com/Wibi)

PENGANTAR
Syamsul Fuad tiba-tiba menjadi nama yang cukup kesohor belakangan ini. Di usianya yang tahun ini menapaki 82 tahun, Syamsul Fuad masih lantang berteriak ketika karyanya, Benyamin Biang Kerok, tiba-tiba diproduksi dua perusahaan film (Maxima Pictures dan Falcon Pictures) tanpa seizin darinya. Syamsul mengibaratkan, dua produser itu memasuki rumahnya dan mengambil harta miliknya tanpa izin. “Itu hak saya, mereka tidak bisa ambil begitu saja hak saya,” katanya. Pria kelahiran Palembang 15 November 1936 itu memang tak lagi muda. Wajahnya sudah dipenuhi kerutan. Namun, dia tetap bersemangat jika bercerita mengenai Biang Kerok. Suaranya terdengar datar, tapi langsung meninggi dan bergetar saat bercerita mengenai perseteruannya dengan Max Pictures dan Falcon pictures. Kepada wartawan Tengokberita.com Wibi Arya Pradana, Syamsul Fuad mengisahkan perseteruannya dengan Maxima Pictures dan Falcon Pictures. Berikut petikan wawancaranya.
REDAKSI

Bagaimana saat Bapak tahu film Benyamin Biang Kerok kembali dibuat oleh Falcon Pictures dan Max Pictures?
Saya kaget dengan berita bahwa Biang Kerok udah syuting, sudah selesai malah. Saya kaget dengan kawan-kawan Pos Kota, saya sangat kecewa dengan film ini dibuat tanpa sepengetahuan saya, tanpa izin. Timbul reaksi dari pihak mereka bahwa mereka akan mengirim seseorang untuk bertemu saya, sebelum berita Biang Kerok ini keluar, anaknya almarhum Benyamin kontak saya, dia bilang ‘om, tolong dateng ke tempat saya.

Saya pikir nggak ada kaitannya dengan film Biang Kerok dan hanya sekedar silaturahmi saja. Saya bilang ‘nantilah kapan-kapan saya datang’, besok-besoknya saya bilang kalau saya nggak bisa karena saya fikir saya kan lebih tua, kenapa harus saya yang ke tempat dia, saya bilang datang saja ke saya.

Kemudian datanglah si Ody ke meja ini (sebuah meja di kantor Pos Kota di Jl Gajah Mada Jakarta Pusat, red). Saya bilang bahwa saya kecewa kenapa kalian tidak minta izin dulu ke saya. Dia bilang bahwa dia membeli kepada keluarga Benyamin. Saya bilang yang dibeli apa? Kalau untuk film ya minta izinnya ke saya dong sebagai penulis cerita. Dia menjelaskan bahwa dia sudah membeli dan dia bikin surat ke saya bahwa dia menyatakan bahwa dia sudah membeli film itu kepada Benyamin, dia juga bilang akan mencantumkan nama saya di film itu.

Kapan mereka mendatangi bapak?
Itu pada bulan Desember (2017), sebelum filmnya beredar. Pertemuan kedua bicara soal tuntutan saya, saya bilang saya sebagai pencipta naskah saya berhak untuk menuntut hak saya. Ody mengatakan bahwa hak cipta ada batas waktu selama 25 tahun, saya tidak komentar karena saya awam, jadi saya diam.

Saya berbicara kepada Ody lagi soal hak materi, saya minta 25 juta karena komentar batas waktu 25 tahun, dari pada pusing saya minta saja 25 juta. Itu pun ditolak, dan cuma akan mengasih 10 juta sisanya akan diminta kepada keluarga Benyamin. Saya bilang saya nggak ada kaitan dengan keluarga Benyamin. Dia tetap bertahan, dalam pertemuan selanjutnya masih di bulan Desember, tetap dia masih bertahan.

Sementara pengacara saya selidik punya selidik ternyata hak cipta di Indonesia tidak ada tenggang waktu, di Amerika ada 35 tahun itu pun bisa diperpanjang terus, di Indonesia tidak ada. Saya jadi agak nyesal ngasih harga 25 juta tadi.

Kapan Bapak memberikan surat teguran untuk mereka?
Kemudian karena saya tidak mendapat kabar dari mereka, akhirnya saya buat surat teguran sebelum film beredar di bulan Desember. Pertama saya kasih waktu 1 minggu ternyata tidak digubris, kedua saya buat lagi tidak juga digubris, sampai akhirnya sewaktu belum beredar, Januari akhirnya pengacara saya yang buat surat teguran, masih belum juga digubris.

Surat gugatannya kapan dilakukan?
Akhirnya tanggal 5 Maret setelah film beredar, karena mereka putar film tanggal 1 Maret, saya bikin gugatan setelah film itu beredar. Mulailah di situ ramai. Lucunya saya dituduh karena berita- berita gugatan ini, film yang mereka harapkan terjual 6 juta tiket jadi 600.000. Saya disalahain, masuk akal nggak?

Berita itu baru ramai setelah tanggal 5 (Maret), ribut-ributnya di media online kan bisa tanggal 10. Padahal banyak juga yang komentar bahwa kurang suka dengan film itu. Masyarakat Betawi sendiri mengatakan kekecewaan sampai melarang film itu menggunakan nama Benyamin. Almarhum kan bermain sebagai pemain, penulis naskahnya ya saya. Buktinya ada bahwa sinopsisnya itu ada di cinematic, brosur film tahun 1972 ada nama saya sebagai penulis cerita.

Mereka (Falcon dan Max) pun secara langsung mengakui saya sebagai penulis naskah, buktinya ada nama saya sebagai penulis naskah di film mereka. Tapi hak ekonomi saya mana?

Apakah Bapak tak ingin berdamai?
Kalau mau berdamai ya harusnya waktu saya kirim somasi dong. Surat somasi saya saja tidak pernah direspons, akhirnya ya saya permasalahkan di jalur hukum. Produksi film pertama tahun 1972 itu kan diproduksi oleh NV Harapan Film, lalu Harapan Film menjual kepada si A. Si A menjual kepada B, dan si B kemudian menjual kepada C. Bertahun-bertahun kemudian sampai akhirnya dibeli oleh Falcon. Terakhir hak edar ada di tangan PT Falcon Pictures.

Apakah Bapak tahu kenapa Yayasan Benyamin menjual ke Falcon?
Saya nggak tahu, apa mungkin karena bapaknya, Benyamin. Bisa saja dia ingin membuat film dengan karakter Benyamin, bisa aja. Tapi bicara soal hak cipta naskah film Biang Kerok, tetap ada di saya.

Bapak belum pernah memindahtangankan hak cipta ke tangan orang lain?
Tidak pernah.

Lalu apa legal standing Yayasan Benyamin menjual kepada Falcon?
Saya kurang tahu, mungkin mereka menjual karakter bapaknya. Tapi mengenai ceritanya, judul, tetap harus ke saya. Buktinya banyak, mesin ketik untuk menulis naskah itu saja masih ada sampai detik ini.

Waktu NV harapan film bagaimana?
Ya dia sudah izin ke saya, di situ kan saya juga merangkap sebagai asisten sutradara.

Bagaimana perasaan Bapak saat hak cipta bapak diambil tanpa izin?
Sebetulnya saya sangat kecewa, tapi saya tetap berusaha berjiwa besar.

Pihak Falcon menduga bapak diperalat?
Diperalat bagaimana? Dia bilang saya pikun, daya ingat saya masih lebih bagus dari pada dia. Fisik boleh tua, tapi otak saya nggak kalah sama dia.***

Bagaimana menurut pembaca?