Tentang Dorce yang di-Accept dan Lucinta yang di-Reject

30
Dorce dan Lucinta Luna

Society, Tengokberita.com – Masa lalu, merupakan bagian dari pengalaman-pengalaman batin yang tidak dapat dijangkau dengan metode ilmiah, yang membentuk seseorang tersebut pada masa kini dan bahkan mungkin pada masa depan. Pengalaman masa lalu seseorang tersebut pulalah yang membentuk pola-pola pemikiran seseorang. Sehingga, dalam memahami seseorang tidak dapat ditafsirkan melalui pengambilan jarak terhadap subjeknya. Namun, untuk melihat secara utuh pikiran dan pengalaman seseorang, kita harus masuk ke sisi dalam dari subjek tersebut. Pada sisi lain, yaitu pada sisi subjek itu sendiri, tidaklah mungkin menghapus masa lalunya, namun yang paling tepat adalah menyembunyikannya atau membuatnya menjadi tidak tampak. Oleh karena itu, penafiqkan terhadap masa lalu membutuhkan keterputusan antara ruang dan waktu, yang sebenarnya pada era digital saat ini, hampir tidak mungkin dilakukan.

Rekam jejak Dorce Gamalama, sebagai seorang Dedi Yuliardi Ashadi, akan dapat terus menjadi suatu bagian sejarah masa lalu bagi dirinya maupun bagi siapa saja karena menampilkan ketersembunyiannya. Demikian pula bagi Ayluna Puti—yang dahulu adalah bernama Muhammad Fatah, oleh karena, rekam jejak (trace) diketemukan dan diakui oleh mereka sebagai aktornya.

Bagi keduanya, Dorce Gamalama dan Ayluna Puti (yang kemudian disebut-sebut adalah ‘Lucinta Luna’), yang telah melepaskan diri dari kemenduaan dan meraih kepastian, tidak akan mempermasalahkan munculnya bayang-bayang masa lalu pada kehidupannya saat ini. Secara sadar ataupun tidak sadar, masa lalu tersebut menjadi satu dalam pelukan kehidupan mereka, walaupun termarginalkan. Artinya, ketidakinginan terhadap kemenduaan masa lalu tersebut diakui sebagai faktor yang membentuk mereka pada masa kini dan masa depan.

(Baca: Menyoroti Kontroversi Jenis Kelamin Lucinta Luna dari Perspektif Hukum dan Sosial)

Perbedaannya adalah pertama, bila Dorce Gamalama, secara tegas mengakui ketiadaan sifat kelaki-lakian dalam dirinya, sedangkan pada Ayluna Puti atau Lucinta Luna, memblokir masa lalu tersebut hadir kembali. Kedua, bila Dorce Gamalama menghibur sebagai komedian dengan menginternalisasikan nilai-nilai kewanitaan Indonesia dan nilai-nilai agama pada dirinya, walaupun pada sesi awal Dorce Gamalama dikenal sebagai komedian yang mampu mengeluarkan dua jenis suara secara bergantian sebagai bahan berkomedi ria. Sedangkan Ayluna Puti mengalami keterjebakan dalam aliran hedonisme masa kini. Sehingga, reaksi masyarakat dalam memandang kedua fenomena tersebut, pula menjadi berbeda. Masyarakat, seolah-olah secara sadar dan dengan sengaja melupakan jati diri kodrati dari Dorce Gamalama. Namun pada sisi lain, masyarakat yang masih menjunjung tinggi kenormalan umum, mereduksi kepastian yang dimiliki oleh Ayluna Puti/Lucinta Luna sebagai suatu yang rendah.

Tidaklah mengherankan, perilaku meng-upload ke youtube tentang video pada saat moment perallihan dari kemenduaan menuju kepastian dianggap sebagai suatu tantangan secara langsung kepada kenormalan umum. Yang kemudian dibumbui dengan perseteruan kepada public figure lainnya. Sikap eksploitasi sensualitas diri, pula menjadi salah satu faktor terjadinya reduksi terhadap kepastian tersebut. Sikap demikian tentunya memunculkan kembali perdebatan klasik yang tidak pernah tuntas di negeri ini. Sehingga, akan memunculkan ketakutan tersendiri bagi transgender-transgender lain yang telah berdamai dengan kepastian, akan kehadiran masa lalunya kembali.

Bagaimana menurut pembaca?