Tiga Skenario Sektor Bisnis Hadapi Tahun Politik

74

Jakarta, Tengokberita.com-Sektor bisnis memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap pengaruh politik. Dinamika dan aktifitas politik yang tidak pasti akan berdampak pada sektor bisnis. Apalagi, tahun 2018 ini adalah tahun politik karena ada 171 daerah yang menggelar pemilihan kepala daerah secara bersamaan. Karena itu diperlukan sejumlah skenario agar sektor bisnis tetap bisa menjalankan aktivitasnya.

Praktisi Intelijen Bisnis Stanislaus Riyanta mengatakan menghadapi tahun politik maka
sejumlah strategi harus disiapkan. Hal ini penting agar sektor bisnis tak terlampau mengalami dampak dari aktivitas politik tersebut.

Berkaca pada Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu, hajatan Pilkada menjadi perhatian besar sektor bisnis. Polarisasi massa akibat isu agama yang terjadi pada Pilkada DKI membuat sektor bisnis di Jakarta khawatir. Karena bagi sektor bisnis, faktor keamanan dan stabilitas sangat penting. Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu yang cukup panas membuat kekhawatiran akan terjadinya konflik sosial dan gangguan keamanan. Selain itu, ada kecemasan karena keterbatasan aparat keamanan yang fokus pada kegiatan Pilkada. Kegiatan pengamanan di masing-masing instalasi bisnis hanya dilakukan oleh satuan pengamanan perusahaan. Namun dengan kerja keras aparat keamanan terutama Polri dan TNI, Pilkada DKI Jakarta 2017 akhirnya berakhir dengan aman dan kondusif.

“Menghadapi tahun politik dengan ketidakpastian yang tinggi, maka yang perlu disiapkan oleh sektor bisnis adalah menyiapkan strategi untuk berbagai situasi yang akan terjadi,” ujar Stanislaus secara tertulis kepada Tengokberita.com, Rabu (3/1/2018).

Skenario pertama adalah optimistis. Dalam skenario ini, kegiatan Pilkada dan Pilpres berjalan dengan aman dan kondusif. Pilkada dan Pilpres berlangsung secara demokratis dan diterima oleh seluruh masyarakat. Pemenang pemilu dapat dilantik dengan lancar.

Skenario kedua adalah transformatif. Skenario ini menggambarkan ada dinamika yang perlu perhatian terkait penyelenggaraan Pilkada dan Pilpres. Pemerintah dan aparat keamanan bekerja keras untuk menangani dinamika ini. Masyarakat pro aktif membantu pemerintah untuk mengembalikan situasi agar kembalil menjadi kondusif. Meskipun ada dinamika tertentu namun Pilkada dan atau Pilpres dapat berakhir dengan kondusif dan pemenangnya dapat dilantik.

Skenario ketiga adalah pesimistis. Terjadi gangguan terhadap Pilkada dan Pilpres. Meskipun sudah berusaha untuk melakukan penanganan, pemerintah, penyelenggara pemilu dan aparat keamanan tidak mampu mengembalikan situasi menjadi kondusif. Kondisi darurat ditetapkan dan pemulihan dilakukan oleh negara agar situasi menjadi stabil.

“Dari tiga pilihan skenario tersebut diperkirakan pada Pilkada dan Pilpres nanti sebagian besar daerah akan terjadi skenario pertama dan ada sebagian kecil yang mengalami skenario kedua,” kata dia.

Sedangkan untuk skenario ketiga, kata mahasiswa Doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia itu, kemungkinan tidak terjadi karena melihat kesiapan pemerintah, penyelenggara pemilu dan aparat keamanan.

Namun demikian, diharapkan sektor bisnis tetap menyiapkan strategi jika skenario ketiga yang terjadi. Prinsip untuk berbuat yang terbaik dan bersiap untuk kemungkinan yang terburuk harus dilakukan olek sektor bisnis agar tidak terjadi situasi ketidakpastian di dalam organisasi bisnis tersebut.

Strategi yang disiapkan disarankan sesuai dengan skenario-skenario yang diperkirakan bisa terjadi, mulai dari skenario optimistis, transformatif, hingga pesimistis. “Untuk lebih memudahkan sektor bisnis maka strategi yang harus disiapkan adalah untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk. Jika sektor bisnis siap dengan kemungkinan terburuk, maka jika yang terjadi lebih baik dari skenario yang diperkirakan, sektor bisnis lebih siap untuk menghadapinya,” ujar dia.

Hal berbeda jika strategi yang disiapkan oleh sektor bisnis adalah strategi untuk menhadapi skenario terbaik. Jika yang terjadi lebih buruk maka diperlukan perubahan strategi yang cukup drastis bahkan sektor bisnis bisa mengalami ketidaksiapan menghadapi skenario yang terjadi.

Asumsi skenario terburuk atau pesimistis harus ditanggapi oleh sektor bisnis dengan beberapa langkah.

Mengutip Prunckun dalam Handbook of Scientific Methods of Inquiry for Intelligence Analysis (2010), disarankan dalam menghadapi ancaman maka organisasi menyiapkan langkah-langkah yang terdiri dari prevention, preparation, response, dan recovery.

Langkah prevention (pencegahan) dilakukan agar ancaman tidak terjadi pada sektor bisnis. Untuk mewujudkan hal ini sektor bisnis sebaiknya bersifat netral, tidak terlibat dalam politik praktis, dan tidak menggambarkan sebagai kepentingan parpol atau kelompok tertentu.
“Netralitas sektor bisnis sangat perlu untuk menunjukkan profesionalitas bisnis tanpa kepentingan politik praktis,” ungkap dia.

Kedua adalah preparation, (persiapan). Pada tahap ini sektor bisnis perlu melakukan beberapa persiapan untuk menhadapi ancaman gangguan keamanan yang diperkirakan bisa terjadi pada tahun politik. Persiapan yang paling penting adalah membangun jaringan untuk memperkuat pasokan informasi dan keamanan. Sumber-sumber informasi yang mampu memberikan data sitasi terkini perlu diajak kerja sama positif agar sektor bisnis tidak ketinggalan informasi terkait situasi terbaru.

Persiapan lainnya, menurut dia, adalah menyiapkan SDM internal dalam bidang pengamanan, memastikan bahwa infrastruktur dalam kondisi baik, dan memastikan bahwa sistem tanggap darurat pada organisasi sudah teruji dan mampu diaplikasikan dalam kondisi skenario terburuk.

Langkah ketiga adalah response. Tahapan ini adalah bagaimana sektor bisnis melakukan tanggap darurat terhadap situasi yang terjadi. Jika ancaman gangguan terkait situasi tahun politik terjadi, maka sektor bisnis harus mampu melakukan langkah-langkah tanggap darurat untuk menyelamatkan asetnya sesuai dengan skala prioritas.

Sektor bisnis juga perlu sepakat bahwa aset paling penting adalah manusia, sehingga menyelamatkan karyawan adalah hal utama yang harus dilakukan jika terjadi situasi terburuk pada tahun politik. Selanjutnya adalah menyelamatkan aset-aset penting selain manusia. “Sektor bisnis harus memastikan bahwa situasi terburuk ditanggapi untuk memperkecil risiko yang akan ditanggung oleh organisasi bisnis,” kata dia.

Langkah terakhir adalah recovery. Kondisi darurat setelah bisa ditangani harus dipulihkan kembali. Sektor bisnis perlu memetakan kerugian yang terjadi termasuk korbannya. Pemulihan harus dilakukan agar jika terjadi trauma tidak terlalu berlarut-larut. Pemulihan hubungan dengan pihak lain yang mungkin sempat tercederai karena aktivitas politik perlu dilakukan. Pemulihan dilakukan secepatnya agar sektor bisnis bisa kembali produktif.

“Ketidakpastian situasi dalam tahun politik harus diantisipasi dengan strategi yang tepat. Sektor bisnis yang rawan terhadap situasi yang tidak pasti harus mampu membaca skenario yang akan terjadi dan membuat strategi untuk menghadapi skenario tersebut,” Stanislaus menambahkan.

Kesiapan menghadapi skenario terburuk menjadi perisai bagi sektor bisnis untuk menghadapi ancaman dan gangguan keamanan di tahun politik.

Daya tangkal terhadap ancaman gangguan keamanan harus terus dipupuk dan diperkuat dengan menyiapkan SDM, infrastruktur, device, dan tidak kalah penting adalah networking dengan pihak lain termasuk sektor bisnis lainnya.(rot)

Bagaimana menurut pembaca?