Home » News » Refleksi » Tragedi Rohingya, dan ‘The Lucifer Effect’ Aung Saan Suu Kyi

Tragedi Rohingya, dan ‘The Lucifer Effect’ Aung Saan Suu Kyi

Jakarta, Tengokberita.com -Aung Saan Suu Kyi, siapa tak kenal perempuan kelahiran Rangoon, 19 Juni 1945 ini. Sosoknya mengejutkan  dunia internasional saat dia dengan lantangnya  melawan junta militer pimpinan Ne Win. Melalui wadah  National League for Democracy (NLD), ia menjadi pemimpin revolusi melawan kekejaman penguasa militer Ne Win, 29 tahun lalu.

Konsistensinya melawan penguasa membuat dia  terpisah dari anak dan suami yang tinggal di London, Inggris. Bahkan ia tak bisa melihat suaminya yang wafat karena digerogoti kanker pada 1999. Meski kemudian diizinkan terbang ke Inggris, Aung San Suu Kyi menolaknya karena khawatir tak diizinkan kembali masuk ke Myanmar.

Demi revolusi demokrasi dan membela rakyatnya Suu Kyi memilih tetap di Myanmar. Aung San Suu Kyi berulang kali menjadi tahanan rumah. Tak kurang dari 15 tahun dia mendekam sebagai tahanan rumah dari 21 tahun masa penahanannya.
pada 1991, ia menerima Penghargaan Nobel Perdamaian atas perjuangannya dalam memajukan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer.

Ia dibebaskan secara resmi oleh junta militer Myanmar pada tanggal 13 November 2010. Dalam perjalanan dia diberi posisi State Counsellor atau penasihat negara oleh Presiden Htin Kyaw.

Namun, yang menjadi pertanyaan, kenapa  Daw Aung San Suu Kyi yang dulu lantang membela demokrasi dan menentang segala bentuk kekerasan justru diam saat etnis rohingya teraniaya. Padahal, selama kampanye, Aung Suu Kyi selalu berkata, “Aku berjanji, semua orang yang hidup di negeri ini akan mendapat perlindungan semestinya sesuai hukum dan norma hak asasi.

Janji manis itu sepertinya menguap begitu saja seiring dengan naiknya dia ke tampuk kekuasaan. Sebagai seorang  yang cinta damai dan  penganjur anti kekerasan, berdiam diri ketika satu etnis yang kebetulan minoritas mengalami tindakan kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan oleh militer myanmar.

Untuk melihat perubahan sikap Aung San Suu Kyi itu saya mencoba memahami dari jalan berpikir Philip Zimbardo, yang dia tuangkan dalam karya “The Lucifer Effect“.  Buku ini adalah hasil risetnya selama 30 tahun yang diawali dengan eksperimen psikologi di basement department psikologi Stanford University. Zimbardo menunjukkan dengan meyakinkan bahwa  orang ‘baik-baik” itu bisa berubah jadi jahat karena tiga hal.
Pertama karena disposisi (bawaan), kedua situasi dan ketiga karena sistem. Jadi, karena faktor lingkungan yang membuat orang itu berubah. Jika melihat tiga kategori Zimbardo ini maka situasi dan sistim yang buruk yang membuat Aung San Suu Kyi berubah.

Junta militer yang telah berkuasa di Myanmar selama 46 tahun terhitung sejak terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Ne Win terhadap pemerintahan sipil yang saat itu dipimpin oleh U Nu pada tahun 1962 menyebakan demokrasi tersendat untuk berkembang.

Apalagi, junta militer di Myanmar dapat dikatakan bersifat Rasial. Kudeta yang dilakukan oleh militer didominasi oleh etnis Burma atau Bama yang juga merupakan etnis mayoritas di Myanmar. Artinya, kekuasaan atas pemerintahan Myanmar dikuasai oleh satu etnis yaitu etnis Burma atau Bama. Hal tersebut pasti akan berdampak pada kebijakan junta militer yang lebih bersifat memihak dan menguntungkan etnis Bama. Inilah yang memicu terjadinya perlawanan dari rakyat Myanmar termasuk juga yang dilakukan Aung San Suu Kyi.

Namun begitu Suu Kyi masuk ke dalam kekuasaan, keadaan menjadi berbeda. Dia terpengaruh oleh lingkungannya. Bahkan dia  menciptakan peran penuh kekuasaan untuk dirinya yang disebut Penasihat Negara (State Counsellor). Ini juga untuk memenuhi janjinya agar berada ‘di atas presiden’ sekaligus berarti di luar pengawasan publik.

Aung San Suu Kyi sekarang tidak pernah memberikan wawancara kepada media Myanmar dan dengan hati-hati memilih siapa yang akan ditemuinya dari media internasional. Tidak ada sesi tanya-jawab dengan anggota parlemen dan belum pernah ada konferensi pers yang memadai sejak pemilihan umum november 2015 silam.

Untuk keluar dari situasi semacam ini, Aung San Suu Kyi harus berani keluar dari lingkungan atau sistem yang buruk itu, sama seperti saat dia berani melawan junta militer 29 tahun lalu.  Kata Philip Zimbardo, solusinya adalah Heroism atau sebuah ‘kepahlawanan’ untuk melawan bobroknya sistem di Myanmar. Tapi, beranikah dia melakukan itu? Demi kebaikan umat manusia, harusnya dia berani. Jika tidak, tragedi rohingya akan terus berlangsung, hingga batas waktu yang tak bisa diprediksi. (rot)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Related Post

RS Mitra Keluarga Hanya Diberikan Teguran Tertulis, Cukupkah?

OLEH: HASANUDDIN SENIOR JOURNALIST TENGOKBERITA.COM Jakarta, Tengokberita.com – Pemerintah lewat Dinas Kesehatan DKI Jakarta akhirnya ...

Tragedi Rohingya, dan ‘The Lucifer Effect’ Aung Saan Suu Kyi

Tengok Berita redaksi Berita Hari ini: 3 min
0