Tumpahan Minyak di Laut Indonesia, Kasus yang Sering Ditutup-tutupi

605

Ekonomi, Tengokberita.com – Kesadaran akan bahaya dari tumpahan minyak di Indonesia terbilang masih kurang. Masih ada saja masyarakat yang membuang limbah minyak pelumas yang terkategori sebagai limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) secara sembarangan.

Jika dibuang ke sungai, limbah berbahaya itu tentu akan mencemari air sungai dan jika dibuang dalam lubang di tanah yang sengaja dibuat untuk pembuangan limbah oli, sudah pasti akan mencemari tanah di area pembuangan limbah tersebut. Sebagaimana dikatakan Sesditjen PPKL Kemen LHK Sigit Reliantoro, minyak dan limbahnya merupakan limbah B3 yang memerlukan penanganan secara khusus.

Parahnya, masih kurangnya kesadaran bahaya tumpahan minyak juga melanda kalangan industri bahkan pemerintah. Hal ini ditandai dengan tidak adanya data yang pasti tentang kasus-kasus tumpahan minyak yang terjadi di perairan Indonesia.

Tengokberita.com yang menelusuri kasus tumpahan minyak di perairan Indonesia mendapati data yang berbeda-beda. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Kelautan IPB yang dikutip Kemen LHK menyebut, sejak 1975 – 1997 terjadi tumpahan minyak di Indonesia sebanyak 104 kejadian.

Sedangkan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) mencatat ada 14 tumpahan minyak besar di Indonesia selama periode 1975 – 2016. Dari 14 kasus itu, Kemen ESDM mencatat tumpahan minyak yang terjadi di perairan Indramayu, Jawa Barat pada 14 September 2008 sebagai tumpahan minyak dengan volume tumpahan minyak terbesar di Indonesia yaitu 150 ribu ton atau 150 juta liter minyak mentah (crude oil).

Tetapi data tumpahan minyak di situs Kemen ESDM hanya menampilkan data tumpahan minyak periode 2011 – 2016 di sektor hulu dan hilir migas dengan data volume tumpahan minyak yang rendah. Paling besar terjadi di tahun 2013 dengan volume minyak yang tumpah sebesar 2.071 barel atau 329.082 liter (1 barel = 158,9 liter).

Data tumpahan minyak di sektor hulu dan hilir Kemen ESDM

Sedangkan sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan mencatat 37 kali tumpahan minyak di Indonesia selama periode 1998 – 2018. Data itu termasuk tumpahan minyak kelapa sawit di Sumatera Barat.

Data tumpahan minyak yang terjadi di Indonesia boleh jadi lebih besar dari angka-angka tadi. Sebab diyakini banyak peristiwa tumpahan minyak yang tidak dilaporkan. Lantas apa itu tumpahan minyak dan bagaimana minyak bisa tumpah di laut atau perairan?

(Baca: Berkaca pada Kasus Deepwater Horizon, Bagaimana Penanggulangan Pencemaran Minyak di Teluk Balikpapan?)

Secara definitif, tumpahan minyak di laut (oil spill) adalah lepasnya minyak baik langsung atau tidak langsung ke lingkungan laut yang berasal dari kegiatan pelayaran, kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi, atau kegiatan lain (Pasal 1 angka 2 Perpres No 109 tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut).

Tumpahan ini dapat berasal dari docking (perbaikan/perawatan kapal), tank cleaning (pembersihan tanki minyak), scrapping kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua), kecelakaan tanker (kebocoran lambung, kandas, ledakan, kebakaran dan tabrakan), atau illegal bilge yaitu saluran buangan air, minyak dan pelumas hasil proses mesin yang merupakan limbah ke laut.

Tidak hanya terjadi ketika kecelakaan, operasional kapal dan kapal tanker juga memberikan kontribusi besar terhadap pencemaran laut, khususnya watter ballast (air penyeimbang) dalam kapal tanker minyak, yang selalu harus dikeluarkan pada saat loading.

Tumpahan minyak juga sering terjadi pada proses operasi pengeboran (drilling) baik legal maupun illegal drilling, pecahnya pipa (blow out) pada proses transfer minyak mentah baik dari kapal tanker yang sandar di laut ke kilang atau ke terminal single bouy moaring (SBM) maupun pecahnya pipa akibat kecelakaan seperti kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan.

Kasus tumpahan minyak selama ini sering kali terungkap ketika sudah tercium media. Ketika sudah diberitakan media, barulah perhatian semua pihak tertuju pada kasus tumpahan minyak yang terjadi.

Padahal, banyak masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir yang berlokasi cukup jauh dari daerah operasi migas, mengeluh karena pantainya tercemar minyak (meski dalam volume sedikit). Ceceran minyak itu kemungkinan bisa sampai ke mereka karena terbawa arus air laut.

Mengingat dampak bahaya mengerikan yang ditimbulkan oleh pencemaran minyak, akankah hal ini terus dibiarkan dan ditutup-tutupi? (Hasanuddin)

Bagaimana menurut pembaca?