Walhi : Pertamina Bertanggungjawab Mutlak Terhadap Petaka di Teluk Balikpapan

773

Justice, Tengokberita.com– Pertamina lewat pengacaranya, Otto Hasibuan, siap melayangkan gugatan perdata kepada Ever Judger Holding Company Limited selaku pemilik dan Fleet Management Ltd selaku operator kapal MV Ever Judger atas rusaknya pipa pengangkut minyak mentah milik Pertamina yang mengakibatkan tumpahan minyak di Teluk Balikpapan.

Sayangnya gugatan itu dimaknai Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Timur, sebagai sebuah pengalihan atas sebuah tangungjawab yang seharusnya dipikul Pertamina. “Pertamina sedang mencari ‘kambing hitam’ atas persoalan tumpahan minyak di Teluk Balikpapan,” ujar Manajer Advokasi Walhi Kalimantan Timur Topan Wamustofa Hamzah kepada Tengokberita.com, Rabu (9/5/2018)

Bagi Walhi sudah jelas, bahwa dasar acuan dari peristiwa yang terburuk dalam sejarah pencemaran lingkungan setelah Teluk Meksiko pada April 2010 adalah
Pasal 88 UU 39/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang bertanggungjawab adalah Pertamina sebagai pemilik minyak yang tergolong sebagai B3 (Bahan Berbahaya Beracun).

Maka bagi kami (Walhi) yang bertanggung jawab adalah Pertamina,” Topan menambahkan.

(Baca: 7 Juta Liter Minyak Tumpah, Pertamina Bertanggungjawab ?)

Karena itu, dalam pandangan Walhi, tak ada alasan apapun atau dalih apapun dari Pertamina untuk menghindar dari bencana ekologis yang kembali terjadi di Kota Balikpapan.

Bila Pertamina mengelak, Walhi bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak Balikpapan sedang sedang menyiapkan gugatan Strict Liability. Pertamina harus “bertanggung jawab mutlak” karena dialah perusahaan yang menyebabkan polusi atau kerusakan lingkungan.
Langkah Strict Liability diambil karena upaya hukum ini cukup simpel karena pihak penggugat tak perlu membuktikan apakah perusahaan melanggar hukum sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan atau tidak.

“Cukup melihat apakah terjadi kerusakan lingkungan yang diakibatkan beroperasinya suatu perusahaan dalam hal ini Pertamina,” ujar Taufan.

(Baca: Rugi Banyak Akibat Pecahnya Pipa Minyak)

Walhi mengakui kejadian tumpahan di perairan laut Balikpapan bukan yang pertama. Sejak tahun 2017 sampai dengan tahun 2018 sudah beberapa kali ada peristiwa semacam itu. Namun tidak pernah ada penegakan hukum untuk menuntaskan tindak pidana lingkungan yang terjadi. Hanya kegiatan bersih-bersih zat pencemar tanpa pernah dilakukan investigasi untuk menemukan pelaku pencemaran.

Bahan Berbahaya dan Beracun menurut OSHA (Occupational Safety and Health of the United State Government) adalah bahan yang karena sifat kimia maupun kondisi fisiknya berpotensi menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, kerusakan properti dan atau lingkungan.

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, B3 didefinisikan sebagai bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?