Warga Kelimpungan, Elpiji 3 Kg Masih Langka

Bogor, Tengokberita.com-Beberapa daerah di Indonesia termasuk Bogor hingga kini masih mengalami kelangkaan elpiji 3 Kg. Gas subsidi warna hijau muda atau sering disebut gas melon itu sudah sepekan terakhir susah diperoleh. Akibatnya, warga kelimpungan sehingga beberapa dari mereka terpaksa kembali memanfaatkan minyak tanah atau kayu bakar untuk kegiatan masak memasak .
Seorang warga Cigombong, Bogor, Murti (45)mengatakan sejak elpiji 3 kg susah diperoleh dia terpaksa kembali memanfaatkan minyak tanah untuk keperluan memasaknya. “Susah elpiji 3 kg, saya sudah mencari ke sejumlah warung belum ada. Bahkan, saya ke pasar Cigombong juga susah. Makanya sementara saya ganti minyak tanah dulu,” ujar ibu lima anak ini kepada Tengokberita.com, Kamis (7/12/2017).

Murti tak sendiri, Nyonya Ujang (33) juga demikian. Bahkan, kata dia, bukan minyak tanah yang dimanfaatkan untuk mengganti kelangkaan elpiji 3 Kg tersebut. “Saya malah beralih ke kayu bakar,” ujar dia.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kota Bogor, sulitnya mendapatkan gas ukuran tiga kilogram menyebabkan warga Bogor harus rela mengantre berjam-jam di agen penjualan gas, meski harganya melonjak dari biasanya Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu, menjadi Rp 24 ribu. “Sudah antre berjam-jam kehabisan lagi,” ujar Ibu Yeni, warga Ciomas, Bogor.

Sebelumnya, Direktur Hulu PT Pertamina Syamsu Alam mengatakan sebagian besar gas produksi Pertamina EP adalah gas kering (metan) atau jenis c1 dan c2. Sedangkan untuk elpiji adalah gas basah atau komposisi c3 dan c4. Akibatnya, untuk elpiji Pertamina harus impor. “Elpiji 3 kg subsidi sangat berat dipertahankan di Pertamina karena harus melakukan impor,“ujar dia.

Selain itu masalah distribusi dan masalah siapa yang berhak menggunakan elpiji 3 Kg hingga kini masih belum jelas.Bahkan, banyak usaha profit seperti restoran-restoran juga menggunakan elpiji 3 kg tersebut. (rot)

Bagaimana menurut pembaca ?