Sate Klathak, Kelezatan Dalam Potongan Jeruji Besi

1926

Kuliner, Tengokberita.com-Yogyakarta, dikenal tak hanya sebagai kota Budaya. Kota yang dikenal dengan masakan gudeknya ini juga menyimpan aneka ragam kuliner yang bisa jadi pilihan bila mengungunjungi Yogyakarta. Salah satunya adalah
Sate Klathak. Bentuk Sate Klathak memang tak banyak berbeda dengan sate lain, seperti sate ayam, sate kambing dan aneka jenis sate lain. Perbedaan Sate Klathak pada proses pembakarannya. Jika sate biasa menggunakan tusukan bambu, maka Sate Klathak, tusukan yang dipakai untuk memanggang dan membakar terbuat dari besi, persis jari jari roda becak atau roda sepeda. Tusukan besi itulah yang membuat daging bagian dalamnya lebih matang dibandingkan sate biasa.

Bagi anda yang ingin mencicipi sate Klatak khas Imogiri Bantul, anda bisa langsung menjajal sate Klatak di hampir seantero yogyakarta. Namun jika kita menuju Jl Raya Imogiri Bantul, seberang terminal Giwangan Yogyakarta, di sini berjejer kedai- kedai atau warung-warung sate Klatak.

 

Bahan Sate klathak adalah kambing asal Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dalam beberapa versi, kegiatan membakar sate di pembakaran terbuka dalam Bahasa Jawa disebut “Klathak”. Versi lain menyebutkan, asal mula Nama Sate Klatak tidak diketahui secara jelas asal muasalnya. Ada yang meyakini nama itu diambil dari suara daging kambing yang dibakar. “Klathak , klathak , klathak”.

(baca: Sensasi Lembut Sate Kijang Borneo Rain Forest)

Satu porsi Sate Klathak terdiri 2 tusuk sate yang besar besar yang dihidangkan bersama 1 manggkuk kuah kare. Jika konsumen meminta sambel kecap, barulah penjual menyiapkan cabe ,bawang merah. Kemudian bahan-bahan itu ditumbuk di atas piring, alu diaduk dengan kecap manis. Hidangan kecapnya di buat terpisah dari hidangan sate .

Pada bulan Ramadhan , warung warung Sate Klathak sudah buka mulai jam 17 .00 WIB hingga jam 24.00 WIB. Bahkan ada yang buka hingga jam 2 dini hari sehingga cocok untuk menu makan sahur. (jar/rot)

Bagaimana menurut pembaca?