Kenalkan Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa, Padi Lokal Kampar Ditargetkan Panen 3 Kali Setahun

Kenalkan Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa, Padi Lokal Kampar Ditargetkan Panen 3 Kali Setahun
Padi Varitas lokal kuniong ancak

KAMPAR, — Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar, Riau, terus mengembangkan varietas padi lokal untuk menjaga kelestarian benih khas daerah sekaligus meningkatkan produktivitas petani.

Pengembangan tersebut diarahkan agar varietas padi lokal Kampar yang saat ini umumnya ditanam dua kali dalam setahun dapat dikembangkan hingga tiga kali musim panen.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar Nurilahi Ali melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Budi Hantana mengatakan, saat ini terdapat dua varietas padi lokal Kampar yang telah resmi dilepas Kementerian Pertanian.

Kedua varietas tersebut adalah Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa. Selain itu, pihaknya telah mengusulkan dua varietas padi lokal lainnya untuk mendapatkan pelepasan resmi pada tahun ini.

“Varietas yang sudah dilepas seperti Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa kini sudah dikembangkan di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Gunung Sahilan, Salo, Kuok, dan Kampar,” kata Budi, Selasa (15/9/2026).

Saat ini, penanaman padi lokal tersebut telah memasuki musim tanam kedua (MT II) yang berlangsung pada Mei-Juni. Panen diperkirakan berlangsung pada Oktober 2026.

Menurut Budi, padi lokal Kampar memiliki keunggulan dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat. Selain itu, beras yang dihasilkan memiliki cita rasa yang disukai masyarakat.

Salah satu varietas yang menjadi perhatian adalah Kuniong Ancak. Varietas ini dikenal menghasilkan nasi dengan tekstur mengembang, lunak, tetapi tetap kenyal.

“Untuk Kuniong Ancak, tekstur nasinya mengembang, lunak, tetapi tetap kenyal. Ini cocok untuk dibuat lontong dan kualitas rasanya tidak kalah dengan beras Solok,” ujar Budi.

Dari sisi produktivitas, varietas padi lokal Kampar mampu menghasilkan sekitar 5-6 ton gabah per hektare.

Dinas Pertanian Kampar juga tengah melakukan penelitian untuk memperpendek umur panen. Upaya tersebut dilakukan agar padi lokal nantinya dapat ditanam hingga tiga kali dalam setahun.

Selain meningkatkan produksi, pemerintah daerah juga berupaya menjaga keberadaan benih lokal agar tidak punah. Salah satunya melalui pelestarian benih inti di Balai Benih Induk (BBI) Kampar dengan memanfaatkan lahan sekitar 0,5 hektare.

Benih yang dihasilkan kemudian dapat disalurkan kepada kelompok tani untuk diperbanyak dan dikembangkan pada lahan pertanian masyarakat.

Pengembangan dalam skala lebih luas juga dilakukan melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kampar dengan memanfaatkan lahan sekitar 25-28 hektare.

Budi mengimbau petani yang menanam varietas lokal agar menyisihkan sekitar 25-30 kilogram gabah dari setiap hektare hasil panen untuk dijadikan benih pada musim tanam berikutnya.

Ia berharap pengembangan padi lokal tidak hanya menjadi upaya konservasi sumber daya genetik tanaman pangan, tetapi juga mampu menciptakan identitas atau branding beras khas Kampar.

Dengan branding tersebut, beras lokal Kampar diharapkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan petani.

(Dir)

#padi lokal kampar panen #varitas lokal