KAMPAR — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kampar ke-76 dimaknai sebagai ajang refleksi oleh berbagai elemen masyarakat. Salah satunya datang dari Aktivis Pemuda Rantau Kampar Kiri, Redo Antoni Sandra, yang menyoroti masih adanya ketimpangan pembangunan dan persoalan tata kelola pemerintahan di Kabupaten Kampar.
Redo berharap, di usia ke-76 ini, Kampar dapat tumbuh menjadi daerah yang lebih maju, adil, dan inklusif bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan wilayah perkotaan maupun pedesaan.
“Tidak boleh lagi ada sekat-sekat atau perbedaan perlakuan. Seluruh masyarakat Kampar, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan perhatian yang adil dari pemerintah daerah,” ujar Redo, Rabu (4/2/2026).
Ia secara khusus menyoroti kondisi pembangunan di wilayah Rantau Kampar Kiri yang dinilainya belum merata. Menurutnya, pembangunan selama ini masih terkesan terfokus di wilayah tertentu, sementara daerah pedesaan tertinggal.
“Kita ini wilayah yang sama, wilayah kampanye yang sama. Setelah proses politik selesai, seharusnya kita kembali bersatu. Pemerintahan harus dijalankan secara profesional, bekerja dari hati, dan untuk kepentingan masyarakat secara menyeluruh,” katanya.
Namun demikian, Redo menilai kondisi Kampar saat ini belum sepenuhnya berada dalam keadaan yang baik. Ia mengungkapkan masih banyak persoalan di berbagai sektor, khususnya pendidikan dan infrastruktur.
Di sektor pendidikan, Redo menyinggung polemik pembelian Lembar Kerja Siswa (LKS) serta aksi protes pelajar yang terjadi di sejumlah sekolah. Bahkan, menurutnya, persoalan tersebut melibatkan beberapa kepala sekolah, termasuk di Balam Jaya dan Lubuk Sakat.
“Ini menunjukkan masih adanya masalah serius dalam tata kelola pendidikan di Kampar yang perlu segera dibenahi,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi infrastruktur, Redo meminta agar pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap prioritas pembangunan. Ia mengingatkan agar pembangunan tidak terus dilakukan di wilayah yang sudah memadai, sementara daerah lain masih minim fasilitas dasar.
“Pembangunan seharusnya diprioritaskan pada wilayah yang benar-benar membutuhkan. Jangan sampai pembangunan dilakukan berulang di tempat yang sudah bagus,” kata dia.
Sebagai contoh, Redo menyinggung pembangunan jembatan di kawasan Waterfall City. Menurutnya, jika sebagian anggaran tersebut dialihkan, setidaknya dapat digunakan untuk perbaikan jembatan di wilayah Rantau Kampar Kiri, meskipun dalam skala ringan.
“Sampai hari ini, jembatan di kampung kami belum juga diperbaiki, padahal sudah ada janji survei dan perencanaan dari pihak terkait,” ungkapnya.
Redo menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan aspirasi melalui aksi. Ia pun tidak menutup kemungkinan akan menggelar aksi yang lebih besar apabila tuntutan tersebut tidak direalisasikan dalam waktu dekat.
“Jika tahun ini tidak juga ada realisasi, kami siap melakukan aksi yang lebih besar sebagai bentuk kepedulian dan perjuangan untuk daerah kami,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Redo berharap di usia Kampar yang ke-76, pemerintah daerah benar-benar hadir dan berpihak kepada seluruh masyarakat Kampar secara adil dan merata.
“Semoga Kampar ke depan menjadi rumah yang adil bagi semua,” pungkasnya.
Reporter : Dirman Domo
#HUT Kampar 76 #Redo Antoni Sandra