BANGKINANG - Sekretaris Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kampar, Admiral S.P.,M.Si.,M.Pd
menilai buku Tenun Akar karya Dr. Misharti relevan menjadi bahan refleksi bagi guru dan orang tua. Buku tersebut mengajak pembaca memperhatikan proses tumbuh anak di tengah harapan akan nilai, peringkat, dan kemenangan.
Menurut Admiral, harapan terhadap keberhasilan anak perlu berjalan bersama kesediaan orang dewasa memahami usaha, kemampuan, dan kesulitan yang dihadapi anak.
“Prestasi patut dihargai. Yang perlu kita jaga adalah agar keinginan melihat anak berhasil tetap memberi ruang baginya untuk mencoba, mengalami kesulitan, dan memperbaiki kesalahan. Guru dan orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mendampingi proses itu,” ujarnya, Senin (2/11/2026).
Dr. Misharti, Wakil Bupati Kampar sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Kampar, membahas persoalan tersebut dalam bab Piala di Pundak Anak. Pada bagian ini, kebanggaan terhadap pencapaian anak ditelaah bersama kemungkinan bergesernya tujuan belajar menjadi tuntutan untuk menjaga harga diri orang dewasa.
Anak dapat terbebani ketika kemenangan dianggap sebagai bukti keberhasilan keluarga, sementara kegagalan disambut dengan kekecewaan yang membuatnya merasa kurang diterima. Buku ini mengajak orang tua menjaga agar dukungan tetap berpusat pada pertumbuhan anak.
Bagi Admiral, refleksi tersebut juga relevan bagi lingkungan sekolah. Penghargaan atas hasil belajar perlu disertai perhatian terhadap perkembangan yang tidak selalu tampak melalui peringkat atau penghargaan.
“Ada anak yang mulai berani bertanya setelah lama diam. Ada yang akhirnya memahami pelajaran setelah berkali-kali mencoba. Ada pula yang belajar mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Kemajuan seperti itu perlu mendapat perhatian dalam pendidikan,” katanya.
Ia menilai hubungan rumah dan sekolah menjadi penting karena guru dan orang tua melihat anak dalam situasi yang berbeda. Percakapan di antara keduanya dapat membantu memahami penyebab kesulitan belajar sebelum anak dinilai kurang bersungguh-sungguh.
Persoalan pendampingan dibahas lebih lanjut dalam bab Mendampingi tanpa Mengambil Alih. Dr. Misharti menguraikan bentuk bantuan yang memberi anak kesempatan menggunakan pikirannya, menyampaikan pendapat, dan belajar menghadapi akibat dari pilihannya.
Salah satu pembahasannya berkaitan dengan tugas sekolah. Orang tua dapat membantu menemukan bagian yang belum dipahami, memberi contoh, atau menghubungkan anak dengan guru, sambil tetap menyediakan ruang bagi anak untuk melanjutkan proses berpikirnya sendiri.
“Ketika anak kesulitan mengerjakan tugas, kita perlu mengetahui bagian yang belum dipahaminya. Kalau seluruh jawaban langsung kita sediakan, tugasnya mungkin selesai, tetapi kita belum mengetahui apakah anak sudah belajar. Bantuan yang diberikan seharusnya membuat kemampuannya bertambah,” ujar Admiral.
Pendampingan tersebut tetap memiliki batas yang tegas. Dalam buku ini, latihan kemandirian disesuaikan dengan kemampuan anak, besarnya risiko, dan ketimpangan kuasa yang dihadapinya. Kekerasan, ancaman, atau perundungan berat menuntut tindakan orang dewasa untuk melindungi anak.
Admiral memandang perhatian terhadap proses belajar dan perlindungan anak sebagai dua tanggung jawab yang perlu dijalankan bersama oleh keluarga dan sekolah. Anak memerlukan kesempatan menghadapi kesulitan yang sesuai dengan kemampuannya, sekaligus kepastian bahwa pertolongan tersedia ketika keselamatannya terancam.
Menurutnya, kekuatan Tenun Akar terletak pada cara Dr. Misharti membawa persoalan sehari-hari dalam keluarga menjadi bahan pemikiran tentang pendidikan dan tanggung jawab orang dewasa.
“Buku ini dapat menjadi bahan percakapan guru dan orang tua untuk menilai kembali cara kita mendampingi anak. Harapannya, anak tumbuh lebih mampu, berani belajar dari kesalahan, dan tetap merasa dihargai ketika hasilnya belum sesuai harapan. Dari proses seperti itulah pendidikan membentuk karakter manusia,” tuturnya.
(Man)
#PGRI #buku tenun akar #admiral