Kades Thomas Renaldo Berjuang Lestarikan Maaghak Suwek, Tradisi Ratusan Tahun di Kampar

Kades Thomas Renaldo Berjuang Lestarikan Maaghak Suwek, Tradisi Ratusan Tahun di Kampar
Thomas Renaldo, Kades Pulau Birandang

KAMPAR – Tradisi Ma’aghak Suwek dengan mengarak Al-Qur’an berukuran besar masih dilestarikan masyarakat Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar, Riau. Tradisi yang diwariskan sejak zaman penjajahan Belanda ini menjadi bagian dari sejarah dan identitas budaya masyarakat setempat.

Tradisi tersebut digelar setiap 28 Oktober, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Pulau Birandang.

Kepala Desa Pulau Birandang, Thomas Renaldo, mengatakan tradisi Ma’aghak Suwèk telah dilaksanakan secara turun-temurun selama ratusan tahun, meski tahun awal pelaksanaannya tidak tercatat secara pasti.

“Kalau ditanya sejak kapan, tahun pastinya memang tidak tercatat secara pasti. Namun, dari informasi para datuk dan tokoh adat, tradisi ini sudah ada turun-temurun sejak zaman Belanda,” ujar Thomas usai pelaksanaan Ma’aghak Suwèk, Rabu (28/10/2026).

Prosesi dimulai sekitar pukul 07.00 WIB melalui tradisi ma’ala. Warga beriringan membawa Al-Qur’an berukuran besar sembari melantunkan zikir.

Rombongan kemudian mengelilingi kawasan persawahan milik warga dan singgah di pemakaman umum untuk mendoakan para leluhur sebelum kembali ke lokasi acara.

Thomas menjelaskan, tradisi ini pada awalnya berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani padi.

Saat padi mulai berbulir, masyarakat menggelar ritual tersebut sebagai bentuk doa dan ikhtiar spiritual agar tanaman padi terhindar dari serangan hama sehingga hasil panen dapat terjaga.

“Dahulu masyarakat kita mayoritas petani padi. Tradisi ini menjadi bagian dari doa dan ikhtiar masyarakat agar tanaman padi terhindar dari gangguan hama,” jelasnya.

Dirangkai Pulang Basamo Perantau

Perayaan HUT Desa Pulau Birandang tahun ini juga dirangkai dengan kegiatan Pulang Basamo, sebagai momentum bagi warga yang merantau untuk kembali ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan keluarga.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Kampar Dr. Hj. Misharti, Anggota DPR RI Dr. H. Syahrul Aidi Ma’azat, Ketua Baznas Provinsi Riau, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, serta Sekretaris Kebudayaan Provinsi Riau.

Thomas menyebut kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat menjadi kebanggaan bagi warga, sekaligus menambah semarak perayaan desa dan pelestarian tradisi Ma’aghak Suwèk.

“Kehadiran Ibu Wakil Bupati, Bapak Syahrul Aidi, beserta para kepala dinas dan tokoh masyarakat tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Ini membuat acara tradisi Ma’aghak Suwèk dan momentum Pulang Basamo untuk berjumpa sanak saudara semakin sempurna,” tuturnya.

Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut, Pemerintah Desa Pulau Birandang bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Riau telah mengusulkan Ma’aghak Suwèk agar mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat nasional.

Thomas berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian dan pendampingan agar tradisi yang telah diwariskan lintas generasi itu tetap terjaga.

Ia juga berharap Ma’aghak Suwèk dapat dimasukkan ke dalam kalender pariwisata resmi Kabupaten Kampar sehingga semakin dikenal masyarakat luas.

“Harapan kami ke depan, tradisi ini resmi masuk kalender pariwisata. Dengan begitu, wisatawan luar bisa datang langsung menyaksikan prosesi adat kita, yang pada akhirnya dapat mendongkrak perekonomian UMKM lokal di Desa Pulau Birandang,” pungkasnya.

(Man)

#pulau birandang #,maaghak suwek #tradisi